Wednesday, November 11, 2020

# info & tips # traveling & culinary

Monumen Jogja Kembali, Jejak Peristiwa 6 Jam di Yogyakarta

Perjuangan Indonesia merebut kembali Jogja dari tangan Belanda tergambarkan di Monjali. Bentuk bangunannya cukup unik, kerucut seperti gunung setinggi 31,8 meter, merepresentasikan Yogyakarta yang memiliki Gunung Merapi. Mengingat saat ini masih di bulan November menyambut Hari Pahlawan di tanggal 10, kali ini aku mau bercerita singkat tentang Monjali. 

 


Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog


 

Ada yang belum 'ngeh' Monjali? Monumen Jogja Kembali didirikan untuk memperingati sebuah peristiwa kembali berfungsinya Ibu Kota Yogyakarta setelah berhasil direbut dari penjajah Belanda, peristiwa ini terjadi pada 29 Juni 1949. Monjali dibangun pada 29 Juni 1985 kemudian diresmikan pada 6 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto. 

 

Baru sekali aku berkunjung ke Monjali pada bulan Februari 2019 lalu. Bersama teteh Rafa rombongan seluruh murid kelas 8 dan para guru MTs Negeri 4 Jakarta, aku yang tergabung korlas 8.1 ikut serta mendampingi PLS atau semacam study tour tersebut. 

 

Sekilas Tentang Monumen Jogja Kembali 

Monjali merupakan satu tempat yang akan memuaskan segala keingintahuan tentang perjalanan Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan. Di Museum Jogja Kembali ini kita bisa melihat berbagai diorama, relief yang terukir atau koleksi pakaian hingga senjata yang pernah dipakai oleh para pejuang kemerdekaan. 

 

Monjali didirikan pada 29 Juni 1985 di atas lahan seluas 5,6 hektar. Ditandai dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Berbagai macam benda bersejarah yang pernah dikenakan pejuang pada masa lalu dipajang di sini. Mulai dari pakaian, senjata, serta benda lainnya. Bahkan, kereta kuda yang membawa Jenderal Soedirman pun turut dipamerkan. 

 

Pengunjung bisa melihat tandu yang digunakan untuk menggotong Panglima Besar Jenderal Soedirman selama perang gerilya, seragam tentara dan dokar yang juga pernah digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Konon total koleksi barang-barang dalam museum tersebut mencapai ribuan.

 

Lokasi Monjali 

Monumen Jogja Kembali terletak di ring road utara tepatnya di Kelurahan Jongkang, Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta 55581. Pengunjung dapat mengakses lokasi dengan kendaraan pribadi maupun umum. Nomor telepon yang bisa dihubungi yakni +62 274 868225 dan email: myk@monjali-jogja.com 

 

Tiket Masuk dan Jam Operasional 

Objek wisata bersejarah Monumen Jogja Kembali ini dibuka setiap hari. Waktu buka mulai dari pagi hari hingga sore. Monumen ini dibuka setiap hari Selasa hingga Minggu pada pukul 08.00–16.00 WIB. Pada masa liburan sekolah monumen ini juga tetap buka pada hari Senin seperti hari biasa. 

 

HTM per orang : Rp 10.000,- 

Jam buka : Senin – Minggu pukul 08.00 – 16.30 WIB (khusus saat pandemi corona tutup 14.00) 

Tiket parkir motor/ mobil: Rp 2.000,-/ Rp 5.000,-  


Beberapa pentas seni seperti keroncong dan campur sari sering diselenggarakan di taman monumen ini terutama dalam perayaan-perayaan seperti Hari Raya Idul Fitri. Ada juga fasilitas area bermain anak-anak, kafetaria, toilet, telepon umum dan area parkir. 

 

Bangunan Unik Monjali 

Bangunan ini tampak gagah, didesain dengan empat pintu masuk sesuai dengan arah mata angin. Pintu barat dan timur menuju lantai satu, sementara utara dan selatan menuju lantai dua. Ada keunikan dari Monjali yang apabila ditarik garis lurus dari udara. Monjali berada satu garis lurus dengan Keraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi. 

 

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Monjali (Jogja Tribunnews)

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Aku di Monjali

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Rafa dkk di Monjali
 

Memasuki halaman museum terdapat dinding yang memenuhi satu sisi selatan monumen yang berisi Rana Daftar Nama Pahlawan di mana pengunjung bisa melihat 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949 dan puisi ‘Karawang-Bekasi’ karangan Khairil Anwar. 

 

Di bagian luar museum terdapat sekitar 40 relief di dinding Monjali yang merupakan perjuangan fisik dan diplomasi perjuangan bangsa Indonesia. Semuanya adalah peristiwa sejak 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Di taman depan terdapat Meriam PSU Kaliber 60 mm buatan Rusia, sedangkan di halaman paling depan ada replika Pesawat Guntai dan Pesawat Cureng yang dipakai dalam peristiwa perjuangan ini. 

 

Ada Apa di Monjali? 

Monumen Jogja Kembali memiliki tiga lantai. Di lantai pertama terdapat empat ruang museum. Ada koleksi dipajang diantaranya replika, foto, dokumen, evokatif dapur umum dan berbagai senjata. Kita bisa membaca keterangan tentang informasi objek tersebut di setiap benda bersejarahnya. 

 

Benda Koleksi di Monjali

Tak kurang dari 1.000 koleksi diorama mengisahkan serangan umum 1 Maret 1949. Sambil menyaksikan berbagai diorama ini, kita semakin dibuat merinding mengingat masa lalu. Di sini diputarkan musik lagu-lagu kebangsaan agar kita dapat merasakan suasana pada masa penjajahan dulu. 

 

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Ruang Duduk

Di lantai dasar Monjali terdapat auditorium, perpustakaan, dan museum. Di dalam museum pada lantai dasar terdapat banyak koleksi benda-benda yang menjadi bukti sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Selain itu, ada juga beberapa benda klasik seperti mesin ketik dan berbagai jenis senjata. 

 

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Diorama Para Pahlawan
 

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Pertemuan Presiden Soekarno dan Jenderal Soedirman

Di setiap diorama yang dipamerkan, kita dapat melihat peristiwa bersejarah yang terjadi. Selain itu, terdapat suara di setiap peristiwa yang menggambarkan adegan dalam diorama. Ada juga diorama pada 17 Agustus 1949, saat bendera merah putih dikibarkan. 

 

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Penandatangan Dokumen
 

Sejujurnya, aku sering merasa takut setiap berada daam ruangan diorama ketika berkunjung ke museum. Entah aku penakut atau larut dalam perasaan atau memang suasana yang mencekam turut menghadirkan berbagai rasa seram yang menghantui. Pokoknya mesti ada teman banyak kalau mau melihat-lihat diorama hehehe 😀

 

Perpustakaan menggunakan satu ruang di lantai satu yang merupakan perpustakaan khusus yang menyediakan bahan-bahan referensi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dapat dimanfaatkan oleh umum. 

 

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Ruang Serbaguna

 
Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Ruang Serbaguna

 

Ruang serbaguna adalah ruangan yang terletak di tengah-tengah ruangan lantai satu lengkap dengan panggung terbukanya. Setiap hari Sabtu dan Minggu di ruangan ini digelar berbagai atraksi diantaranya tarian klasik, gamelan, musik electone yang memainkan lagu-lagu perjuangan. Ruangan serbaguna ini bisa digunakan oleh umum untuk acara-acara pernikahan, seminar, wisuda dan lain-lain. 

 

Anak-anak kelas 8 MTsN 4 berkumpul bersama di ruang serbaguna ini. Mereka mendengarkan kisah perjuangan para pahlawan merebut kembali Indonesia dengan jejak peristiwa enam jam di Yogyakarta yang dituturkan oleh seorang pemandu wisata Monjali. Mencatat dan menjawab pertanyaan di buku LKS sebagai salah satu tugas mata pelajaran dalam study tour saat itu.

 

Di lantai dua bagian dinding paling luar yang melindungi tubuh monumen, pengunjung bisa melihat 40 buah Relief Perjuangan Phisik dan Diplomasi perjuangan Bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Pengunjung bisa melihat antara lain relief Jenderal Mayor Meyer yang mengancam Sri Sultan HB IX pada tanggal 3 Maret 1949, Presiden dan para pemimpin lain kembali ke Yogyakarta, pernyataan dari Sri Sultan HB IX yang menyatakan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bagian dari Negara Republik Indonesia, Perayaan Kemerdekaan di halaman Kraton Ngayogyakarta dan lain-lain. 

 

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Kereta Kuda dan Tandu Jenderal Soedirman (Suara Jogja)
 

Kesepuluh diorama disajikan dalam kronologis waktu sehingga kita lebih mudah mengetahui urutan kejadian yang sebenarnya. Di sini kita juga semakin memahami peran perjuangan Jenderal Soedirman yang waktu itu dengan kondisi kesehatan sangat lemah dan paru-paru sebelah tetap memaksakan diri ikut berjuang dengan cara gerilya. Padahal Presiden Soekarno sudah memintanya untuk tinggal bersamanya saja. 

 


 

 

Monumen Jogja Kembali Monjali Nurul Sufitri Travel Lifestyle Blog
Monumen Jogja Kembali
 

Monumen Jogja Kembali sangat tepat menjadi sarana untuk memahami sejarah bangsa Indonesia. Di sini ingatan kita akan disegarkan kembali dengan perjuangan para pahlawan dan mengetahui siapa saja tokoh-tokoh di balik perjuangan itu. Biaya masuknya terjangkau untuk wisatawan nusantara maupun mancanegara. Yuk, kunjungi Monjali sebagai tempat wisata yang menyenangkan bersama keluarga! 😊

 

 

39 comments:

  1. Waah lokasinya msh di Ngaklik. 1 area Ama hotel yg aku bakal inapin nanti. Aku suka kalo liburan ke museum bersejarah gini mba. Apalagi kalo ada diorama nya. Jd mudah juga utk menjelaskan ke anak2 :).

    Eh tapi samaaaa, akupun kdg suka merinding kalo ke museum yg dioramanya ada patung2 orang begitu. Apalagi kalo ada bloody history nya. Yg paling serem pas aku ke museum Jend nasution di Menteng. Patung2 cakrabirawanya bikin jantungan hahahahah.

    Ini museum pasti spooky kalo didatangin malem2 hihihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, jangan2 ntar kita ketemu wkwkwkwk :) Aku juga bakalan nginep ga jauh dari Monjali hehehe :D Iya, aura museum terkadang menyimpan rasa2 mistis ya eeeaa...Apa kitanya aja yang penakut yak wkwkwkwkw :) Kalau sendirian gimana tuh :) Diorama emang suka bikin drama spooky2 gituh hahaha :D Tapi nyenengin khan main2 ke berbagai museum, aku syukaaa! Asal rame2.

      Delete
  2. Aku sering lewat, tapi mampir cuma pas dulu kuliah. Sedari dulu pengen mengunjungi museum-museum di Jogja, hanya saja belum kesampaian. Semoga besok bisa ke sana lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooooh gitu... :D Siapa tau kapan2 sembari gowes Mas Sitam bisa mampir ke Monjali ya :)

      Delete
  3. Duuuh enaknya yang aktif jadi korlas, bisa dampingin anak juga sekalian yaaa Nurul.

    Salut emang sama MONJALI, anak bisa belajar sejarah sekaligus wisata.
    BTW ini tuh mirip MONAS tapi dengan bentukan yang lebih kecil ya, dan menurutku lebih nyaman juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe :) Seru lah yaw jalan2 edukatif kayak gini. Anak3 hepi bisa melihat Monjali. AKu juga perdana nih sama Rafa hehehe :) Iya, nyaman kok.

      Delete
  4. wah iya, aku kmrn pas ke jogya juga ajak anak anak kesini mbak....
    tempat yg sangat edukatif buat anak anak, uda gitu htmnya terjangkau pula

    ReplyDelete
  5. Seru nih..wisata diaini.., apalagi bawa anak2..jalan2..juga ada nilai edukasi dan pengenalan sejarah sama anak2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul :) Kita jadi nambah wawasan sejarah bangsa Indonesia dengan cara menyenangkan deh.

      Delete
  6. Wah aku baru sekali bun ke Jogja. Itu juga cuma sempet ke candi prambanam aja. Jadi pengen jalan-jalan lagi ke sana terus jalan-jalan ke monumen Monjali ini. Pantesan dipakai juga untuk study tur anak sekolah ya karena museumnya kaya nilai sejarah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Remedial jalan2 ke Jogja nya, bun Yen hehehe :D Hayuk, main2 ke museum asyik loh, anak2 suka deh :) Iyaaa.

      Delete
  7. Aku jadi ingat foto masa kecilku di monjali ini, tapi foto tampak depan sih, gak ada foto didalamnya. Jadi kenangan banget karena masa kecilku tinggal disana. Ternyata sampe sekarang tarif masuknya masih murah ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku mah baru sekali main ke Monjali hihihii dan baru ngeh kalau itu singkatannya.

      Delete
  8. Bentuk bangunannya unik, ya. Kayak tumpeng hehehe. Saya sama kayak Mbak Nurul. Suka agak merinding kalau ada di ruang diorama. Berasa kayak ditarik ke zaman tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya uni banget bangunannya. Apalagi yang berdarah2 dioramanya ih cacuuutt hahahah :D

      Delete
  9. Suka banget kalau jalan mampir ke museum, banyak sejarah yang baelum kita ketahui. Gedungnya unik banget deh inget tumpeng hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku belum menjelajah semua lantai wkwkwkwkwk :D

      Delete
  10. Wow ada 1000 koleksi dioramanya ya. Banyak banget. Ke Monjali ini, memuaskan keingintahuan mengenai sejarah bisa dilakukan. Pasti banyak yang bisa jadi bahan tulisan ya.

    ReplyDelete
  11. Wahaaa, kayaknya saya malah belum pernah ke monjali deh. Padahal, mungkin tiap pulkam lewat. Memang gitu sih ya, kadang malah kurang antusias pada obyek2 yang di dekat tempat tinggal (ya meski monjali ke kampung saya masih 3 jam-an juga sih hehehe). Tapi kayaknya kapan2 bisa ajak anak2 ke sini kalau pas pulkam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh yaaa? Wah, padahal kesempatan banget karena dekat rumah di Jogja ya heheheh :D Sebenernya museum itu wisata edukasi yang menarik lho, semoga mbak kapan2 bisa mampir ya.

      Delete
  12. Kalau ke sini enaknya rame-rame soalnya gelap dan sepi ya atau akhir pekan. Pengen ajak bocah ke sini mereka suka museum gitu...ah kangen Jogja jadinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak2ku juga suka main2 ke museum :) IYa, mbak Dew.

      Delete
  13. Waah udah lama sekali nggak ke Monjali. Terakhir kali tahun 2010 kalau nggak salah. Ini dulu destinasi wisata saat SMP. Pernah kesana juga pas udah nikah dan punya anak tahun 2010

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, udah mbak ternyata.... udah sering hehehe mantap deh.

      Delete
  14. Monjali, dalam seminggu bisa 2 sampai 3 kali lewat di ruas jalan dekat Monjali ini. Tapi belum kesampaian masuk ke monumennya. Ternyata dalammnya Monjali besar banget dan lengkap jejak rekam sejarahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, hehehe deket rumah kayaknya ya museumnya. Semoga nanti mbak bisa main ke sini :D

      Delete
  15. Enaknyaaa teteh Rafa, ibunya jadi korlas jadi bisa ikut nemenin study tour ya xixi... Udah lama nih aku ga ajak anak-anak ke museum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe alhamdulillaah :) Yuk, berkunjung ke Monjali kalo pas ke JOgja :D

      Delete
  16. Memang suasananya membawa kita serasa kembali ke masanya yaa, kak..
    Jadi wajar kalau merasa merinding.
    Aku belum pernah ke Monjali.
    Apiknyaaa~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Jadi melompat ke masa lalu penuh perjuangan :D

      Delete
  17. Wah aku baru tau nih mak tentang monumen monjali ini.. Seru sekali study tournya, buibu korlas emang biasnya kebagian repot sama hepi hepinya juga yaaaa.. Hihihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru donk hihihi. Korlas demen motretin anak2 kelasnya trus dikirim ke wag ortu hahaha :D

      Delete
  18. Monjali, ya ampun udah tahunan aku gak ke sini. Padahal Monumen ini cuma 10 menit aja dari rumah kakakku di Jogja, hehe. Sekarang kalau malam bagus, Mbak, ada lampion-lampion gitu. Dan jujur aja saya juga takut berlama-lama di monumen ini. Berasa kayak diawasi aja sama patung-patung diorama itu. Btw, tapi perlu juga sih buat anak-anak. Kapan-kapan aku juga pengin bawa DuoNaj ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwowwww deket amaaat hihihihi :) Oh gitu...boleh ah kapan2 ke Monjali lagi malam2 :D Oua, paling spooky diorama2 itu hihiihihiiiiiii :D Kalo cendilian mah udah kaboooorr wkwkwkw.

      Delete
  19. Semoga suatu hari nanti bisa berkunjung ke sana ajak anak-anak. Tempat sejarah wajib dikunjungin agar mereka belajar kehidupan dari sejarah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. In sya allah bisa mbak :) WIsata edukasi bareng keluarga bakalan ga ngebosenin loh.

      Delete
  20. Cuma pernah lewat, tapi nggak singgah saat dari Jogja menuju Magelang karena saat ini monumennya belum buka.
    Sayang banget, karena ternyata isinya menarik banget.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan teman-teman :) Semoga betah membaca kisah seru dan penuh memori di blogku ini. Silakan tinggalkan pesan, kesan maupun saran. FYI, seluruh komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Oh ya, komentar dengan link hidup tidak akan aku munculkan.