Monday, November 11, 2019

# event & hang out # info & tips

Rakornas KADIN Fokus Pada Produktivitas, Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan

Ketahanan pangan, daya saing pertanian dan industri makanan masih menjadi fokus utama Pemerintah Indonesia. Hal ini disebabkan masih terdapat sejumlah tantangan diantaranya peningkatan produktivitas pangan di tengah jumlah populasi yang terus meningkat. Strategi industrialisasi berbasis agroindustri perlu dipersiapkan dengan matang. Dengan semangat "Together We Go Far and Fast" Rakornas KADIN membahas tentang daya saing pertanian dan industri pangan/ makanan agar mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional dengan teknologi canggih. Selain itu diharapkan solusi terbaik dalam peningkatan ekspor dalam sistem perdagangan global



rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski

Teman-teman mungkin banyak yang belum tahu jika ternyata populasi dunia di tahun 2045 diperkirakan akan menembus angka 9 miliar jiwa lho. Wah, peningkatannya tajam sekali ya! Sedangkan populasi penduduk Indonesia akan mencapai 350 juta jiwa. Apakah negara kita sanggup mencukupi kebutuhan pangan di tahun-tahun mendatang?


rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski
Berada di Bali Room - Rakornas KADIN

Rakornas KADIN Fokus Pada Produktivitas, Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan

Alhamdulillaah pada Hari Selasa, 5 November 2019 lalu saya berkesempatan menghadiri acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dengan tema “Produktivitas dan Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan di Bali Room Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Dalam rapat tersebut dibahas tentang rekomendasi kepada pemerintah upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing pertanian juga industri pangan. Selain itu juga mengkoordinasikan program kerja dunia usaha dan pemerintah ke depannya. 

Rakornas Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dibuka secara resmi oleh Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bapak Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro dan dihadiri oleh narasumber sebagai berikut: 
  • Ibu Siti Nurbaya Bakar selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 
  • Bapak Rosan P. Roeslani selaku Ketua Umum KADIN 
  • Bapak Franky O. Widjaja selalu Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan. 
  • Bapak Juan P. Adoe selaku Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan. 
  • Bapak Franky Welirang selaku Ketua Pelaksana Rakornas. 
  • Ibu Musdhalifah Machmud selaku Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian. 
  • Bapak Arief Rachmat selaku Ketua Komite Tetap Kehutanan. 
  • Bapak Franciscus Welirang selaku Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan KADIN 

rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski
Rakornas Kadin (Foto: Creative & Production Team Sinar Mas)
 

Tantangan Pembangunan Pertanian 

  1. Perubahan iklim bisa menyebabkan gagal panen yang berakibat pada kelangkaan atau krisis pangan. 
  2. Kondisi perekonomian global. Terjadi pelemahan nilai tukar rupiah, harga produk dan biaya produksi menjadi lebih mahal. Perlambatan pertumbuhan ekonomi berdampak pada pelemahan ekspor. 
  3. Gejolak harga pangan global. Harga pangan yang berfluktuasi akibat perubahan iklim sehingga harga panen menjadi mahal. 
  4. Bencana alam yang berpengaruh pada kemampuan dan ketersediaan pangan sering terganggu. 
  5. Peningkatan jumlah penduduk melebihi kapasitas lahan yang tersedia. 
  6. Aspek distribusi Indonesia sebagai negara kepulauan. Diperlukan aksesabilitas dan sarana transportasi yang lebih efisien. 
  7. Laju urbanisasi yang tinggi membuat generasi muda cenderung meninggalkan pedesaan/ pertanian, sehingga sector pertanian menjadi kurang diminati generasi penerus. 

Sedikitnya ada 200 peserta yang berkumpul di Rakornas ini untuk bersama-sama merumuskan rekomendasi untuk mensinergikan program dunia usaha dengan pemerintah. Ketua Pelaksana Rakornas, Bapak Franky Welirang mengatakan ,”Selain melibatkan Dewan Pengurus KADIN seluruh Indonesia di sektor agribisnis, Rakornas juga menghadirkan para pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, asosiasi dan himpunan bisnis, petani, korporasi, perbankan dan lembaga keuangan hingga anggota parlemen dan lainnya. 
 
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan, Bapak Juan P. Adoe menekankan pentingnya pertumbuhan investasi di subsektor pangan. Juga perlunya infrastruktur pembiayaan perbankan yang lebih inovatif dan kreatif, sehingga mempermudah akses permodalan kepada petani dan peternak dengan skema perkreditan yang lebih kompetitif dan dapat nenciptakan nilai tambah keuntungan bagi petani dan peternak. 

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan sektor makanan menjadi penyumbang utama penanaman modal dalam negeri (PMDN) seniiai Rp 7,1 triliun, dan kedua terbesar penanaman nodal asing (PMA) senilai US$ 376 juta pada kuartal l/2019. Pada periode-periode sebelumnya, sektor makanan juga menjadi salah satu kontributor utama investasi, terutama untuk PMDN. 'Kita harapkan investasi di sektor pangan terus tumbuh, tentunya ini perlu didorong dengan kebijakan fiskal dan insentif yang baik, karena akan berpengaruh banyak pada keberlanjutan pertanian dan industri makanan,” kata Pak Juan.

Peningkatan Produksi Pangan, Perbibitan dan Perbenihan Serta Edukasi Pada Petani

Menurut Bapak Franky O. Widjaja, peningkatan produksi pangan memerlukan bibit tanaman pangan yang unggul dan berproduksi tinggi. Pada kenyataan sehari-hari, bibit dan benih yang beredar sangatlah beragam. Masih banyak yang belum memiliki standar malah terkadang hilang dari pasaran. Inilah yang menjadi persoalan yang berefek pada harga yang cukup mahal dan banyaknya impor bibit untuk memenuhi kekurangan pasokan. Padahal tidak sedikit bibit impor yang tidak sesuai dengan kebutuhan para petani. 

Pemerintah harus mengeluarkan payung kebijakan yang mengatur tentang perbibitan dan perbenihan komoditas pangan secara nasional agar dapat terkoordinasi mulai dari pengadaan, pendistribusian, penyimpanan hingga cara menanamnya. Selain itu, pemerintah juga perlu menumbuhkembangkan industri perbibitan dan perbenihan dengan memberikan insentif khusus. Perlu diperhatikan mengenai tata dagang (distribusi) bibit dan benih yang baik serta penangkar benih yang terlatih dan tersebar ke seluruh wilayah Indonesia, sehingga bibit dan benih mudah didapat dengan harga terjangkau. 

Adapun edukasi kepada petani soal penggunaan pupuk berimbang untuk sejumlah komoditas terbukti harus tetap diupayakan karena berhasil meningkatkan produktivitas pertanian. Pemanfaatan teknologi pertanian yang tepat juga semakin penting untuk mentransformasi pertanian nasional di tengah perubahan iklim. Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu yang cenderung meningatkan hama tanaman dan merubah pola curah yang berdampak pada menurunnya produksi pangan.

Baca: Cara Mengelola Keuangan Rumah Tangga dan Bisnis Bagi Womenpreneur

Di sisi lain, sistem perdagangan pangan global yang semakin terbuka menyebabkan harga produk pangan di dalam negeri ikut terpengaruh. Kondisi ini menyebabkan harga komoditas pangan strategis menjadi berfluktuasi. Terkait hal ini, Franky menekankan pentingnya menciptakan ekosistem iklim investasi ketahanan pangan yang baik agar sektor pertanian nasional mampu meningkatkan daya saingnya dalam persaingan internasionai yang semakin dinamis dan kompetitif.

Baca: Tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final 0,5% Bagi UMKM

Petani Adalah Pengusaha di Bidang Pertanian


rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski
Menristek Bapak Bambang Brodjonegoro (Foto: Creative & Production Team Sinar Mas)

Menteri Riset dan Teknologi Bapak Bambang Brodjonegoro mengutarakan pandangannya agar petani Indonesia merubah pola pikir terkait petani. “Yang dimaksud dengan petani adalah pengusaha di bidang pertanian”, begitu kata beliau. Mengapa demikian? Hal ini dilakukan untuk mengurangi dikotomi antara pengusaha dan petani. Dikotomi ini telah membuat petani seolah-olah tidak bisa melakukan usaha. 

Anggota KADIN memang perusahaan-perusahaan besar yang skalanya beragam, mulai dari mikro, kecil, menengah dan besar. Akan tetapi KADIN yang berada di daerah bisa melakukan kerjasama dengan para petani di daerah. Sebagai contoh, kerjasama dalam hal lahan. Dengan melibatkan petani daerah dalam berusaha maka manfaatnya bisa dirasakan bersama. 

Ada yang mesti diubah agar kita dapat mencari solusi terbaik untuk meningkatkan taraf hidup petani, mencukupi ketahanan pangan agar produk dapat bersaing di pasaran. Petani harus mengubah mind set untuk tidak hanya sebagai pekerja di lapangan, namun sebagai pengusaha di bidang pertanian. Selain itu pemanfaatan teknologi untuk sektor pangan harus diterapkan untuk menghadapi tantangan yang ada. 

Pak Bambang bercerita ketika beliau berkunjung ke BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional). Terdapat intervensi pendekatan nuklir yang dimanfaatkan untuk menghasilkan beras berkualitas tetapi tetap aman dikonsumsi masyarakat. “Bapak-bapak dan ibu-ibu tak usah khawatir. Hal ini adalah bagian dari riset dan inovasi yang sudah biasa dilakukan. Artinya makan beras tidak akan membuat bapak dan ibu terkena radioaktif ya, sudah sangat aman”, ujar Pak Bambang. 

Tak hanya beras tetapi juga kedelai sebagai bahan pembuatan tempe, bisa diintervensi oleh nuklir. Dengan demikian kedelai local bisa ditingkatkan produktivitasnya dan kualitasnya pun membaik. Penggunaan teknologi di sector pangan ternyata bisa mengurangi ketergantungan impor. Contohnya saat ini pengusaha masih mengimpor gandum sebagai bahan baku terigu. Dengan menggunakan teknologi yang ada maka kini kita dapat mengembangkan gandum tropis. 

Penggunaan teknologi mampu memperbaiki kualitas produk kespor nasional. BATAN memanfaatkan teknologi nuklir untuk membersihkan bakteri pada buah-buahan sehingga layak diekspor. Hanya karena lalat buah, produk buah Indonesia gagal tembus ekspor. Nah, kini ada teknologi nuklir yang bisa membersihkan buah-buahan sehingga bisa dieskpor.

rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski
Rakornas KADIN (Foto: Creative & Production Team Sinar Mas)

Rapat Koordinasi Nasional KADIN 2019 Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Bersama dengan Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan

rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski
Rakornas KADIN (Foto: Creative & Production Team Sinar Mas)

Ketahanan Pangan

Dalam UU No. 18/ 2012 Tentang Pangan, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan. 

Peningkatan Produktivitas Pangan 

Peningkatan produksi membutuhkan bibit tanaman pangan yang unggul dan berproduksi tinggi yang didukung oleh ketersediaan serta penggunaan pupuk yang berimbang, melibatkan sumber daya manusia yang terlatih dan berkualitas, pemanfaatan teknologi tepat guna, kehadiran lembaga yang menjamin penyerapan atau pembelian hasil panen, dukungan system pendanaan yang terbuka dan inklusif berbasis teknologi informasi dan komunikasi. 

Bibit Unggul 

Industri pembibitan dan perbenihan mesti dikembangkan dengan menyediakan insentif khusus bagi lembaga yang berkomitmen melakukan penelitian dan pengembangan pembibitan. Selain itu dibutuhkan pula kehadiran regulasi yakni standarisasi pemuliaan bibit yang bersifat terbuka sehingga potensi masyarakat dan petani dalam perbibitan tanaman pangan local dapat terus turut menjadi kontributor pecapaian ketahanan pangan nasional 

Teknologi Pertanian 4.0 

Sejak 4,5 tahun lalu Kementerian Pertanian telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk berbagai alat dan mesin pertanian seperti autonomous tractor, drone sebar benih, drone sebar pupuk granule, alsin panen olah tanah terintegrasi dan penggunaan obat tanam. Pendekatan teknologi semacam ini tetap dapat berlangsung beriringan dengan teknologi berbasis kearifan lokal seperti pola tanam jajar legowo pada padi sawah dan jarak tanaman hortikultura di mana jarak tanam yang sesuai akan mampu meningkatkan produktivitas tanaman. 

Perubahan Iklim 

Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu yang mengakibatkan penyimpangan cuaca dan meningkatkan potensi serangan hama tanaman. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya yakni menyediakan wahana berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung aktivitas pengelolaan lahan para petani atau pekebun. Contohnya adalah penggunaan citra satelit untuk memantau cuaca, sebaran titi panas dan titik api. Petani dilatih mampu menggunakan perangkat tersebut untuk mengurangi potensi terjadinya kebakaran laan yang disengaja maupun tidak. 

Investasi dan Daya Saing 

Dikutip dari Reuters, Indeks Daya Saing Global atau Global Competitivesness Index 4.0 dengan metodologi baru edisi 2018 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) di Jenewa, Swiss, pada 16 Oktober lalu menempatkan Indonesia di peringkat ke-45 dari 140 negara. China, Jepang, Amerika Serikat dan Negara-neraga Eropa mengurangi impor barang dari Indonesia karena factor perlambatan ekonomi. 

Sistem perdagangan pangan dunia yang makin terbuka akibat pasar bebas menyebabkan harga produk pangan di dalam negeri ikut terpengaruh oleh situasi dan kondisi internasional. Hal ini termasuk ketersediaan dan distribusi di dalam negeri, menyebabkan harga komoditas pangan strategis seperti beras, kedelai, daging sapi, cabai dan bawang merah menjadi berfluktuasi. Pemerintah diharapkan menciptakan iklim investasi berbasis agroindustri yang selain dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional juga dunia secara berkelanjutan melalui komoditas berdaya saing sekaligus mengey=diakan lapangan pekerjaan dalam skala besar.

Baca: Kriyanusa 2019 Hadirkan Pameran Kerajinan Lokal Indonesia Berkualitas Internasional

Saat ini inovasi keuangan sangat dibutuhkan untuk mengatasi hambatan akses pembiayaan petani untuk mewujudkan program-program ketahanan p-angan oleh pemerintah. Meskipun telah ada model pembayaran yang cukup berhasil pada komoditas kelapa sawit, kendala geografis menyebabkan penerapannya pada komoditas pertanian maupun perkebunan lainnya cukup sulit. Bank maupun pembiayaan konvensional lainnya memerlukan dukungan inovasi Infrastucture Financing and Creative Financing berbasis teknologi financial yang inklusif, terbuka namun legal. 

Fintech 

Fintech atau Financial Technology merupakan teknologi dan inovasi untuk menciptakan lanskap keuangan yang lebih baik bagi konsumen dan bisnis. Inovasi baru ini mampu menjadi solusi bagi keterbatasan jangkauan layanan keuangan tradisional selama ini karena mampu menaklukkan keterbatasan topografi, menjangkau wilayah yang lebih terpencil. Saat ini sudah ada lebih dari 150 start up Fintech di Indonesia dengan pertumbuhan sebanyak 78% sejak 2015. 

Layanan Fintech Microfinancing menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat yang belum memiliki akses ke institusi perbankan. Perkembangan Fintech terbilang pesat terbukti dengan nilai transaksi yang terus melonjak, terutama peer to peer lending.

Baca: Digital Marketing 'From Trend to Necessity' Bersama IndonesiaX

Strategi Peningkatan Daya Saing Sektor Pertanian 

Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan petani melalui peningkatan ketersediaan informasi dan data, pengembangan inovasi dan teknologi serta perluasan jaringan pasar. Singkronisasi kebijakan dan regulasi di setiap kementerian/ lembaga terkait agar berjalan dengan tujuan yang sama. Menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk sector pertanian melalui reformasi birokrasi dengan memberikan kebijakan pelayanan prosedur perizinan, investasi, ekspor yang dilakukan dengan tiga prinsip cepat, mudah dan murah.

rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski
Rakornas KADIN (Foto: Creative & Production Team Sinar Mas)

Perbaikan infrasturktur dan perbaikan rantai pasok (supply chain management) agar tercipta rantai pasok yang stabil dan bisa menjamin kepastian ketersediaan barang. Membangun industri hilir melalui pengembangan agroindustri yang idealnya dibangun di wilayah pedesaan dengan didukung oleh riset dan inovasi.

rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski
Bersama Teman-teman Blogger

rakornas kadin fokus pada produktivitas daya saing pertanian dan industri pangan nurul sufitri travel lifestyle blogger review hotel indonesia kempinski
Foto Bersama Teman-teman Blogger


5 comments:

  1. Bahas tentang Bahan pangan, tidak lengkap rasanya jika tidak mengupas tentang pertanian dan juga nasib petaninya. Dengan perkembangan industri yang pesat, pertanian kerap diabaikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak Muna. Petani merupakan pahlawan bangsa yang taraf perekonomiannya harus ditingkatkan. Petani juga mesti memiliki wawasan dan pengetahuan iptek supaya laju pertanian kita makin maju :)

      Delete
  2. Saya juga bisa mprediksi lahan pertanian akan habis puluhan tahun ke depan kalau tidak ada sosialisasi ke daerah-daerah dari pemerintah.

    Di desa saya kabupaten kuantan Singingi kecamatan Sentajo raya.saya sangat menyayangkan hutan di tebang lalu di rubah menanam kelapa sawit,pohon karet berkurang sangat kecewa sebenarnya kenapa kok seperti hutan pohon karet di tumbang ganti sawit.

    Jadi tu ibaratkan kondisi adem dulunya jadi panas mbak,Apalgi waktu kemarau cepat kali habis airnya.

    Jadi bagaimana peran kita agar alam itu imbang,Bagaimana supaya kedepannya petani-petani memikirkan lebih baik menanam sayuran atau cabe,padi gandum sejenisnya sehingga jangan untuk lahan sawit semua gitu mbak?

    Menset orang sini mbak enak nanam sawit karena perawatannya simpel pemanenannya dua Minggu sekali itu mbak.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan teman-teman :) Semoga betah membaca kisah seru dan penuh memori di 'rumah' saya. Silakan tinggalkan pesan, kesan maupun saran. FYI, seluruh komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Oh ya, komentar dengan link hidup tidak akan saya munculkan.