Daftar Isi [Tampilkan]
Tiga bulan belakangan aku rutin berolahraga mat pilates, ashtanga yoga, fitball & kegel exercise dan jalan kaki. Aku makin sadar kalau olahraga saja ternyata belum tentu cukup untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun dua minggu terakhir aku sengaja mengurangi olahraga karena aku merasa berat badan naik dan kaki serta lutut kadang terasa kurang nyaman.
Di usia 48 tahun, aku mulai berpikir bahwa menjaga kesehatan seharusnya bukan cuma soal rajin olahraga. Aku tahu, pola makan juga perlu diperhatikan, namun ternyata sulit terealisasikan. Apalagi aku ingin tetap aktif, tetap punya massa otot yang baik, dan masih bisa melakukan berbagai aktivitas yang aku suka tanpa tubuh terasa gampang capek atau sakit-sakit.
Akhirnya aku memutuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis gizi. Bukan sekadar ingin turun berat badan sih, tetapi aku ingin tahu kondisi tubuh sebenarnya seperti apa. Aku juga penasaran apakah pola makan selama ini sudah sesuai dengan kebutuhan tubuhku atau belum.
Pada Sabtu, 12 September 2026, aku datang ke Primecare Clinic Tebet untuk konsultasi dengan dokter gizi. Sebelumnya aku sudah membuat janji terlebih dahulu yakni pukul 10.00 WIB. Aku menggunakan transportasi KRL dari Lenteng Agung hingga Stasiun Tebet, dilanjutkan JakLingko 43C, jalan kaki sebentar saja, sampai deh.
Kesan Pertama di Primecare Clinic
![]() |
| Ruang Registrasi Primecare Clinic Tebet |
Begitu sampai, aku disambut hangat oleh petugas administrasi dan suster di ruang registrasi. Mereka ramah sekali, komunikatif dan membuat proses kedatangan terasa mudah. Buat aku, keramahan petugas itu cukup penting. Namanya juga datang ke klinik untuk membicarakan kondisi kesehatan, tentu rasanya lebih nyaman kalau dari awal sudah diberikan pelayanan yang baik.
Suster yang membantu pemeriksaan awal juga helpful dan ramah. Suasana kliniknya menurutku nyaman dan ga bikin pasien tegang. Ada apotek di sebelah klinik, jadi cukup praktis kalau memang membutuhkan obat atau produk kesehatan setelah konsultasi. Sebelum bertemu dokter, aku menjalani pemeriksaan komposisi tubuh menggunakan alat khusus.
![]() |
| Primecare Clinic Tebet |
Bukan Cuma Menimbang Berat Badan
Ternyata yang diperiksa bukan hanya angka berat badan. Primecare menggunakan BIA (Bioelectrical Impedance Analysis) atau alat analisis komposisi tubuh untuk melihat beberapa parameter tubuh. Hasilnya langsung tercetak cukup detail. Nah, ini yang menurutku menarik karena aku jadi bisa melihat kondisi tubuh dari beberapa sisi, bukan hanya angka di timbangan.
![]() |
| Bukan Cuma Menimbang Berat Badan |
Hasil pemeriksaanku tanggal 12 September 2026 adalah sebagai berikut:
- Usia: 48 tahun
- Tinggi badan: 160 cm
- Berat badan: 67,5 kg
- Body Mass Index (BMI): 26,4
- Body fat: 35,3%
- Muscle mass: 40,90 kg
- Bone mass: 2,6 kg
- Total body water: 44,2%
- Basal Metabolic Rate (BMR): 1.300 kcal
- Metabolic age: 53 tahun
- Visceral fat: 8
Angka yang paling bikin aku melongo dan berucap dalam hati “Astaghfirullaah” tentu saja body fat 35,3% 😂Please ya, teman-teman jangan ikutan kaget dan menertawakanku hehehe.
BMI 26,4 sendiri merupakan indeks berdasarkan berat dan tinggi badan yang biasa digunakan sebagai salah satu alat skrining. Tapi dari konsultasi ini aku jadi paham bahwa dokter hanya melihat angka BMI saja.
Body fat menunjukkan perkiraan persentase berat tubuh yang berupa lemak. Pada lembaran kertas hasil cetakanku tercantum angka referensi sekitar 20,3%, sehingga aku jadi punya gambaran bahwa komposisi lemak tubuhku memang sangat perlu diperhatikan. Siap, aku usahakan secepat mungkin.
Ada lagi namanya muscle mass yang menunjukkan perkiraan massa otot. Buat aku, bagian ini justru penting karena selama ini aku tetap ingin mempertahankan otot lewat pilates, yoga, berenang, dan olahraga lainnya.
Ada juga total body water, yakni jumlah persentase air dalam tubuh, serta bone mass atau perkiraan massa mineral tulang dari alat tersebut. Jadi bone mass ini bukan pemeriksaan kepadatan tulang atau diagnosis osteoporosis.
Kemudian ada BMR 1.300 kcal, yaitu perkiraan energi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi dasar saat istirahat. Angka ini bukan berarti kebutuhan kalori harian yang harus aku makan persis 1.300 kcal.
Gaes, yang menarik lagi adalah metabolic age aku nih 53 tahun. Ini merupakan estimasi dari alat berdasarkan parameter komposisi tubuh dan metabolism. Aku malah mengartikan usia biologisku benar-benar 53 tahun 😅
Ada juga visceral fat rating 8, yaitu indeks perkiraan lemak yang berada di sekitar organ dalam. Lagi-lagi, ini merupakan hasil pengukuran alat, bukan diagnosis penyakit. Dari sini aku jadi paham, konsultasi gizi ternyata bukan cuma soal, “Berat badan kamu berapa?”
Bertemu dr. Cut, Dokter yang Cantik dan Enak Diajak Konsultasi
Setelah pemeriksaan awal, aku bertemu dr. Cut Thalya Alissya Rahma, Sp.GK, dokter spesialis gizi klinik di Primecare. Kesan pertamaku, dokternya cantik banget! 😍 Ruang konsultasi berada di lantai 2, naik tangga dekat bagian administrasi.
![]() |
| Konsultasi Gizi Bersama dr. Cut Thalya Alissya Rahma, Sp.GK |
Tapi tentu saja bukan itu yang membuatku merasa nyaman selama konsultasi. Yang paling aku suka adalah keramahan dr. Cut dan cara beliau berkomunikasi. Beliau enak diajak ngobrol dan ga bikin suasana konsultasi terasa kaku. Senangnya, dr. Cut menjelaskan hasil pemeriksaan dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam.
![]() |
| Bersama dr. Cut Thalya Alissya Rahma, Sp.GK |
Maklum, begitu melihat lembar hasil body composition, isinya banyak istilah yang awalnya mungkin terdengar asing. Ada BMI, body fat, muscle mass, BMR, metabolic age, visceral fat, dan sebagainya. Tapi dr. Cut menjelaskannya satu per satu dengan bahasa sederhana. Jadi aku sebagai pasien bisa memahami apa arti angka-angka tersebut dan apa hubungannya dengan kondisi tubuhku.
Adakalanya, kita tuh sebagai pasien bukan ga mau memahami kondisi kesehatan sendiri, tetapi memang istilah medisnya bisa membingungkan. Ketika dokter menjelaskan dengan sabar dan bahasa yang familiar, kita jadi lebih mudah menerima informasi dan tahu apa yang harus diperbaiki.
Aku pun jadi lebih nyaman untuk cerita mengenai kebiasaan olahraga, pola aktivitas, sampai perubahan yang belakangan aku rasakan pada tubuh. “Ibu, olahraganya apa?, tanya dr. Cut ramah. “Oh, Ibu belum menopause ya, tapi usia segini perimenopause”. Begitu kira-kira ujarnya.
Aku cerita kalau biasanya punya jadwal olahraga seperti Ashtanga Yoga hari Senin, Pilates Flow Selasa, Fitball & Kegel Jumat, dan Mat Pilates Sabtu. Kalau sedang rutin, berarti bisa sekitar empat kali seminggu. Selain itu aku juga sempat mencoba Reformer Pilates dan tentu saja berenang karena aku memang suka olahraga yang berhubungan dengan air.
Aku bilang bahwa beberapa waktu terakhir frekuensinya menurun. Sengaja aku kurangi karena aku kok merasa lebih begah dan berat. Kaki dan lutut mulai terasa sakit dan kurang nyaman digerakkan. Dari cerita tersebut, dokter kemudian memberikan masukan yang menurutku cukup realistis.
Olahraga yang cocok untukku memang low impact aja. Sudah benar yang sering aku lakukan selama ini, alhamdulillaah. Untuk hari-hari kosong, dokter menyarankan aktivitas yang bersifat kardio seperti berenang, jalan pagi, bersepeda, atau senam ringan.
“Boleh ga dok, kalau sehari atau dua hari aja ga ngapa-ngapain?”, tanyaku. “Tentu boleh, dong, Bu, untuk pemulihan”, jawab dr. Cut. Olahraga memang penting, tetapi tubuh juga membutuhkan recovery. Jadi bukan berarti semakin banyak olahraga otomatis semakin baik.
Jadwal Makan yang Ditulis Khusus untuk Aku
Bagian yang paling aku suka dari konsultasi ini adalah dokter menuliskan pola makan yang disesuaikan dengan kondisiku. Jadi bukan sekadar nasihat umum seperti, “Kurangi nasi, jangan makan gorengan, perbanyak olahraga.”
Aku mendapatkan jadwal makan yang cukup spesifik, mulai dari waktu sarapan, camilan/ snack, makan siang, snack sore sampai makan malam. Yuk, teman-teman mari kita simak bareng 😊
Pukul 06.00: Sarapan
Aku dianjurkan makan 2 butir telur rebus. Boleh makan telur lebih dari dua butir, tetapi kuning telur maksimal dua. Selain telur, aku boleh memilih sekitar setengah porsi ubi atau 3 sendok makan nasi.
Pukul 09.00: Snack
Snack pagi berupa 1 mangkuk kecil buah. Dokter secara khusus meminta aku menghindari mangga, nangka, dan durian dalam pola makan ini. Bukan berarti buah-buahan tersebut ga bagus atau semua orang harus menghindarinya, ya. Ini adalah bagian dari rekomendasi yang diberikan dokter sesuai kebutuhan dan targetku.
Pukul 12.00: Makan Siang
Untuk makan siang, aku boleh makan nasi sekitar 3 sendok makan atau 1 centong. Kemudian ada protein, misalnya ayam tanpa kulit atau 2 potong ikan, ditambah setengah piring sayuran. Untuk lauk, aku diminta menghindari makanan yang terlalu berminyak dan masakan bersantan.
Pukul 15.00: Snack
Pilihan snack sore antara lain kacang-kacangan, plain yogurt, atau susu rendah lemak. Susu protein seperti juga diperbolehkan sesuai arahan dokter.
Pukul 18.00: Makan Malam
Pola makan malam kurang lebih sama dengan makan siang. Nasi sekitar 3 sendok makan atau 1 centong, protein seperti ayam tanpa kulit atau ikan, serta setengah piring sayuran. Masakan berminyak dan bersantan tetap dihindari.
Untuk makan malam, dokter juga mengingatkan agar waktunya ga terlalu dekat dengan waktu tidur. Jadi sebenarnya aku tidak dilarang makan nasi sama sekali. Yang diatur adalah jenis makanan, porsi, waktu makan, dan cara pengolahannya.
Buatku, ini jauh lebih mudah dipahami daripada sekadar mendengar kata “diet”. Oh ya, dokter juga mengingatkan aku untuk minum air putih sekitar 2,5-3 liter setiap hari supaya tubuh terhidrasi dengan baik.
Ternyata Bakso Masih Boleh!
Nah, ini bagian yang membuatku lumayan lega. Aku termasuk yang suka bakso. Ternyata bakso masih boleh! 😂Kalau makan bakso, aku diminta ga menghabiskan kuahnya karena bisa mengandung cukup banyak lemak. Untuk mienya, pilih mie putih atau soun, bukan mie kuning.
Baksonya pilih bakso telur, bukan bakso urat. Boleh ditambah telur ayam, bukan telur puyuh. Kalau masih lapar, boleh menambahkan tahu. Soto juga masih boleh selama memilih yang ga pakai santan.
Jadi diet versi aku bukan berarti harus mengucapkan selamat tinggal kepada semua makanan favorit. Lebih kepada belajar memilih makanan yang lebih sesuai dan mengatur porsinya. Menurutku justru ini yang membuat pola makan terasa lebih realistis untuk dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Makanan yang Perlu Aku Hindari
Ada beberapa jenis makanan yang diminta untuk aku hindari, antara lain:
- Mie
- Makanan berbahan tepung
- Kerupuk
- Keripik
- Jajanan pasar basah
- Cake
- Cookies
Kalau dipikir-pikir, tantangan terbesarnya justru bukan nasi. Yang lebih tricky adalah makanan ringan dan camilan. Bentuknya kecil, kadang terlihat ga banyak, tetapi kalau sudah mulai ngemil bisa tahu-tahu habis beberapa potong. 😅
Vitamin dan Suplemen
Dokter juga mencatat beberapa suplemen yang direkomendasikan untukku, yaitu:
- Vitamin D3 5.000 IU
- Vitamin K2
- Omega-3 1.000 mg
- Magnesium glycinate pada malam hari
Tentu saja ini adalah rekomendasi yang diberikan untuk kondisi dan kebutuhan tubuhku setelah konsultasi. Jadi bukan berarti semua orang perlu mengonsumsi jenis dan dosis suplemen yang sama. Kalau ingin mengikuti suplementasi, sebaiknya tetap konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.
Bagaimana dengan Program Diet di Primecare?
Paket konsultasi gizi di Primecare Clinic sangat direkomendasikan terutama jika teman-teman sedang kelebihan berat badan/ obesitas dan ingin menurunkan berat badan dengan cara yang benar dan terarah.
Primecare saat ini juga memiliki Weight Loss Program yang tersedia di cabang Panglima Polim dan Tebet. Terdapat pilihan program 7 hari dan 30 hari. Untuk program 30 hari, terdapat beberapa paket seperti Essential, Momentum, dan Transformation dengan komponen terapi yang berbeda.
![]() |
| Weight Loss Program Primercare Clinic |
Beberapa paket mencakup fat blocker, fat burner, appetite suppressant, hingga terapi GLP-1. Namun tentu saja pemilihan program dan terapi bukan sesuatu yang sebaiknya dilakukan sendiri. Kebutuhannya perlu ditentukan berdasarkan konsultasi dan evaluasi dokter.
Jadi, Apa yang Aku Dapat dari Konsultasi Ini?
Buatku, konsultasi dokter gizi di Primecare Tebet bukan sekadar datang untuk mencari cara supaya angka timbangan turun. Aku justru jadi lebih memahami bahwa berat badan hanyalah salah satu bagian dari cerita. Ada komposisi lemak, massa otot, air tubuh, aktivitas fisik, pola makan, sampai kebiasaan sehari-hari yang semuanya perlu diperhatikan.
Di usia 48 tahun, targetku juga bukan sekadar ingin kurus. Aku ingin tetap aktif. Aku ingin massa otot tetap terjaga. Aku masih ingin bisa Pilates, Reformer Pilates, yoga, berenang, jalan-jalan, dan melakukan berbagai aktivitas yang aku suka.
Karena itu aku merasa konsultasi seperti ini cukup membantu. Apalagi aku bisa bertanya langsung dan mendapatkan penjelasan dari dokter dengan bahasa yang mudah dipahami. Aku juga suka karena dr. Cut ga membuat konsultasi terasa menakutkan atau menghakimi pola hidupku. Justru aku merasa diajak memahami kondisi tubuh sendiri dan mencari cara yang lebih realistis untuk memperbaikinya.
Jadi setelah konsultasi ini, aku mencoba melihat pola makan dengan cara yang sedikit berbeda. Bukan diet ekstrem. Bukan pula berhenti makan ini itu tanpa alasan. Kata dr. Cut, “Jangan sampai menyiksa diri”.
Tapi belajar mengatur porsi, memilih makanan, tetap bergerak, memberikan tubuh waktu untuk recovery, dan mendengarkan kebutuhan tubuh. Karena pada akhirnya, mens sana in corpore sano — sehat jiwa dan raga.
Buatku, semakin bertambah usia, kesehatan bukan lagi sekadar soal angka timbangan. Yang lebih penting adalah punya tubuh yang cukup kuat untuk diajak menjalani aktivitas sehari-hari, tetap bugar, bisa bergerak dengan nyaman, dan tentu saja tetap bahagia.
Kalau tubuh sehat dan bugar, melakukan berbagai aktivitas yang kita sukai pun rasanya jadi lebih menyenangkan. ❤️
Info Primecare Clinic Tebet
Buat teman-teman yang ingin mencari tahu atau membuat janji konsultasi, berikut informasi Primecare Clinic Tebet yaitu:
Primecare Clinic Tebet
Jl. Tebet Barat Dalam No. 46, RT 005/RW 03, Tebet Barat, Jakarta Selatan
Telepon: 021-2290-2205
WhatsApp Tebet: 0811-8906-625
Email: info@primecareclinic.co.id
Instagram: @primecareclinic.id
Website: primecareclinic.co.id
Teman-teman, dokter gizi praktik juga saat weekend ya. Namun sebaiknya buat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Bagi yang bekerja 9 to 5 bisa konsultasi gizi dengan dr. Cut maupun dokter lain sesuai kebutuhan.
Dan satu hal yang paling aku ingat dari konsultasi ini adalah menjaga kesehatan bukan cuma tentang mengejar angka di timbangan, tetapi bagaimana tubuh tetap kuat, aktif, dan nyaman diajak menjalani hidup.
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
Kalau saya sering konsultasi gizi sama temen kantor di bagian gizi. seringnya ngomongin gizi anak. hehehe.
ReplyDelete