Daftar Isi [Tampilkan]

Belum sempat sang suami merasa paling menderita, istrinya menyusul dengan cerita versi lain. Niat awalnya cuma mau hidup sehat lewat olahraga, eh pulangnya malah bawa bonus cedera otot. Di tengah segala keterbatasan gerak itu, ada tawa kecil dan obrolan receh—karena mau tidak mau, sakit bareng juga bisa jadi cerita bareng 😃

Ketika Pasutri Kompak Sakit Tulang dan Sendi


Pagi itu rumah terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena malas bangun, tapi karena dua penghuninya sama-sama bergerak ekstra hati-hati. Entah ini kebetulan kosmis atau sekadar timing yang lucu, sepasang suami istri ini kompak kena masalah tulang dan sendi. 

Sang suami harus rela menahan nyeri setelah terpeleset di lantai licin, membuat tulang di area tertentu mengalami retak halus. Jalan jadi pelan, duduk salah posisi langsung meringis, dan aktivitas sederhana mendadak terasa seperti misi berat. Badan pegal, sendi protes, dan jadilah mereka pasangan yang saling menguatkan.

Artikel Pertama di Tahun 2026

Teman-teman, ini adalah artikel blog pertamaku di tahun 2026. Selama ngeblog, baru sekali ini ada bulan yang bolong tanpa judul apapun. Januari 2026 dilewatkan tanpa laptopan. Mungkin aku sedang menjaga hati sekaligus kurang mood menulis, padahal terlalu banyak kisah yang bisa menjadi cerita inspiratif. Ya sudahlah ga apa-apa, fokus kesehatan keluarga dulu. Yuk, simak bersama! Baca saat senggang sambil ngemil dan ngopi juga boleh 😍

Cerita Kronologis Terpeleset di Lantai

Suamiku Aa Rahmad terpeleset di lantai saat hendak menuju kamar hotel di pada Jumat 14 November 2025 lalu. Kala itu ia berjalan dari area kolam renang. Mungkin masih basah, mungkin lantainya licin atau ada penyebab lainnya. Jatuh terduduk dengan bokong yang lebih banyak menahan beban badan. Ya, seperti itulah kira-kira cerita singkatnya kepadaku melalui video call Whatsapp malam harinya.

Keesokan harinya ia masih sempat mampir ke Desa Penglipuran dengan bantuan tongkat yang dibelikan rekan sejawatnya. Namun rasanya sulit dan tak sanggup, katanya. Saat tim kantor berada di Nusa Penida, Aa Rahmad hanya bisa membayangkan. Ia hanya berada di dalam kamar dengan pinggul kanan terasa sakit saat berdiri. Ia masih bisa berjalan, tapi nyeri di pangkal paha kanan.

Qadarullaah, destinasi ini yang sudah lama sekali diniatkan untuk datang, karena memang belum kesampaian. Kebetulan ia pula yang turut menyusun itinerary perjalanannya. Mungkin di lain waktu. Sabar ya, Aa Rahmad ☹ Lusa, suami dan tim kantor pun kembali ke Jakarta menggunakan pesawat terbang sesuai jadwal.

Berobat ke RS. Siaga Raya

Pada hari Senin, 17 November 2025, aku temani suamiku berobat ke dokter ortopedi di RS. Siaga Raya Pasar Minggu. Konsultasi dengan dokter ortopedi senior yakni dr. Sofyanuddin, Sp. OT (FICS). Beliau juga dokter andalanku jika penyakit tulang dan sendi tiba-tiba datang lagi. Ketika anak bungsuku Fakhri kecelakaan motor pun, waktu itu aku antar ke dr. Sofyanuddin.


Suamiku menceritakan kejadian kronologis saat acara kantor di Bali tersebut. Sang dokter memberi instruksi kepada suster membawakan kursi roda. Aku dan suami kaget sekali. Ternyata memang tidak boleh banyak gerakan di seputar tubuh yang dikeluhkan. Perawat pria menjemput kami. Suamiku naik ke kursi roda dan didorong nya menuju ruang rontgen yang tak jauh dari ruangan dokter.

Rontgen menunjukkan retak sebagian di leher tulang paha kanan. Pemeriksaan menunjukkan retak halus, belum patah total (terlihat setelah dirontgen dua kali). Kondisi penting diketahui, karena jika tidak ditangani, retakan bisa bertambah parah. Malah bisa berubah menjadi patah total, bahkan bisa menyebabkan kesulitan berjalan jangka panjang. Wah, menakutkan ya ☹

Dr. Sofyanuddin, Sp. OT (FICS) memeriksa hasil rontgen dengan saksama (dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya) hehehe. Jadi, penanganan tergantung pada tingkat rentak, usia pasien dan kondisi tulang. Ada yang tanpa operasi (konservatif) dan dengan operasi (misalnya dengan mengganti bonggol).

Jika retaknya ringan, tulang masih stabil, penanganannya lebih baik tanpa operasi. Alhamdulillah, kami memperoleh solusi yang tepat sesuai dengan kondisi suamiku. “Yang sabar ya, Pak. Kan ada isteri yang siap sedia nemenin. Kalau ada kapsul kesabaran, bakal saya resepin nih,” ujar beliau sambil tersenyum.

Sekilas Tentang Incomplete Fracture Collum Femur Destra

Apa itu incomplete fracture collum femur dextra? Artinya retak sebagian pada leher tulang paha sebelah kanan, tulangnya belum patah sepenuhnya.

Kalimat medis ini bisa dipecah jadi beberapa bagian, yaitu:
  • Incomplete fracture: Retak tulang tidak sampai patah total (tulang masih menyambung).
  • Collum femur: Leher tulang paha, yaitu bagian sempit yang menghubungkan batang paha dengan sendi panggul.
  • Dextra: Sebelah kanan
Gambaran sederhananya seperti ini, teman-teman. Bayangkan tulang itu seperti kayu. Kalau patah lengkap, kayunya terbelah dua. Kalau incomplete fracture, kayunya retak atau pecah sedikit, tapi masih satu bagian. Keluhan ini dapat terjadi karena terjatuh, benturan keras (kecelakaan) serta tulang yang sudah rapuh (misalnya osteoporosis).

Gejala yang Sering Dirasakan

Beberapa gelaja yang sering dirasakan seperti sakit saat berdiri atau berjalan, nyeri di pangkal paha kanan, kaki kanan terasa lemah, serta kadang masih bisa berjalan namun terasa nyeri.
  • Perawatan Sehari-hari di Rumah
  • Istirahat yang cukup dan mengurangi gerak.
  • Tidak menumpu berat badan di kaki kanan (pakai tongkat/kruk atau walker).
  • Obat pereda nyeri dan vitamin.
  • Fisioterapi untuk latihan penguatan otot dan lain-lain yang diperlukan.
  • Kontrol rontgen berkala untuk memastikan retakan tidak bertambah
Bagaimana jika pilih penanganan dengan operasi? Hal ini lebih sering dianjurkan, terutama pada lansia, retakan berisiko jadi patah total, nyeri berat maupun tulang yang sudah rapuh. Keuntungan operasi selain lebih cepat hasilnya adalah tulang lebih stabil, bisa lebih cepat duduk atau berjalan serta mengurangi risiko patah total. Kalau dari segi biaya, tentu saja sangat besar hhmmmm 😁


Ketika Pasutri Kompak Sakit Tulang dan Sendi
Konsultasi dan Fisioterapi di RS. Siaga Raya


Ketika Pasutri Kompak Sakit Tulang dan Sendi
Sarapan Sebelum Konsultasi dan Fisioterapi

Perawatan Sehari-hari di Rumah

Berikut adalah perawatan sehari-hari di rumah saat suamiku sakit dan bekerja dari rumah (WFH), yakni:

Batasi tumpuan pada kaki kanan. Tidak berdiri atau berjalan tanpa alat bantu. Suamiku membeli 2 tongkat/ kruk dan walker yang dibeli di apotek RS. Siaga Raya saat pertama kali berobat. Saat duduk, pilih kursi yang agak tinggi, jangan jongkok. Mandi pun caranya dengan duduk di kursi atau bangku. Jangan mengangkat beban berat juga.

Bergerak pelan-pelan sekali. Kaki kanan tidak napak alias jalan dengan kaki kiri saja pakai walker. Mirip loncat kecil kira-kira gambarannya. Hal ini upayakan untuk mencegah retakan bertambah parah. Harapan kami, retakan bisa terisi atau membentuk lagi secara alami.

Nutrisi Penyembuhan Tulang dan Sendi

Apa saja nutrisi yang baik untuk penyembuhan tulang dan sendi? Perbanyaklah makanan seperti berikut ini:
  • Kalsium: Susu, keju, yoghurt, ikan teri.
  • Protein: Telur, ikan, ayam, tempe, ceker ayam.
  • Vitamin D: Berjemur pagi ±10–15 menit maksimal pukul 10.00 WIB.

Cegah Jatuh

Ini penting banget dilakukan untuk mencegah jatuh, seperti menyingkirkan kabel dan karpet yang mudah tersandung. Usahakan lantai jangan licin. Jika perlu, pasang pegangan di kamar mandi. Pencahayaan rumah pun harus cukup.

Akhirnya Lepas Tongkat

Setelah berobat plus fisioterapi awal 27 November 25, suamiku kontrol kembali sebulan kemudian pada Selasa, 2 Desember 2025. Cek kondisi retakan dengan rontgen kembali. Masih diberi obat dan vitamin, masih WFH juga. Pada 5 Januari 2026 aku temani lagi seperti biasa sekaligus dengan keluhanku. Kenapa pasutri ini kompak benar dengan sakit tulang dan sendi? Hehehe... Ceritanya ada di alinea bawah ya, teman-teman.

Baca:

Alhamdulillaah, harapan dan kabar baik yang lama dinantikan akhirnya datang juga. Senin, 2 Februari 2026 aku temani suamiku kontrol kembali ke RS. Siaga Raya. Seperti biasa, dr. Sofyanuddin. Sp. OT (FICS) memberikan instruksi suami untuk melakukan rontgen kembali. Tak lama kemudian hasilnya datang.

Barakallaah, retakannya menutup perlahan secara alami. Lagi dan lagi sang dokter memeriksa hasil dan menggerakan kaki suamiku dalam posisi rebahan di tempat tidur pasien. Bahagia tak terkira, suamiku sudah diperbolehkan lepas tongkat dan berjalan dengan normal pelan-pelan. Artinya, dia sudah bisa bekerja offline alias di kantor, bukan WFH lagi.

Sebulan lagi mesti kontrol, Maret 2026 mendatang. Masih diberi obat dan vitamin tentunya. Ingat, jalan pelan-pelan, ga perlu terburu-buru. Latihan satu kali belajar jalan lepas tongkat fisioterapi. Sudah boleh salat layaknya orang normal, namun jangan duduk boncengan di motor atau posisi naik motor.


Ketika Pasutri Kompak Sakit Tulang dan Sendi
Kontrol dengan dr. Sofyanuddin. Sp. OT (FICS) di RS. Siaga Raya


Rasanya campur aduk. Sungguh kami bersyukur kepada Allah SWT atas segala karunia dan kuasa-Nya. Masya Allah Tabarakallah. Sejak diperbolehkan ngantor offline/ WFO, aku ikhlas menjadi sopir pribadi suamiku tiap pagi antar ke kantor, sore hari menjemputnya kembali. Itung-itung mengisi waltu luang eeeaaa hahaha. Alhamdulillaah kantornya dekat hanya sekitar 6 km dari rumah kami.

"Siapa dulu dong, dokternya?", hehehe pokoknya Masya Allah Tabakarallaah Ya Allah SWT pemberi kuasa segala-gala. Doa dan usaha kami merupakan ikhtiar yang dilaksanakan. Senangnya memiliki dokter ortopedi seperti beliau. Tak kenal lelah memberikan dukungan moral, sabar luar biasa. Terima kasih banyak ya, dok. Begitu pula terima kasih kepada para perawat dan terapis di rumah sakit atas pelayanan yang baik dan keramahannya.

Teman-teman, itulah cerita singkat penyakit yang diderita suamiku sekaligus kebahagiaannya. Nah, sekarang aku mau membagikan keluhan tulang dan sendi yang ternyata terjadi lagi walau tak diundang 😃 Sampai dr. Sofyanuddin. Sp. OT. (FICS) pun heran, “Wah, padahal sudah 2 tahun nih. Kenapa, Bu?”. Aku, suami dan beliau tertawa bersamaan.

Kisah Cedera Otot

Setelah hari Minggu sore 12 Desember 2025 aku mengikuti mat pilates (perdana di studio ini) aku mencoba basic yoga (pertama kali dalam hidup) dua hari kemudian pada Rabu, pagi 23 Desember 2025 (selang dua hari saja) di studio yang sama. Lokasi studionya terbilang dekat sekali dengan rumahku, hanya 1,6 km saja.

Beberapa jam kemudian, entah mengapa aku merasakan keanehan bergerak. Rasanya badan ini kaku semua kayak robot. Nyeri lutut dan berbunyi saat hendak sujud. Yang paling dirasakan adalah sulit rukuk, disusul dengan gerakan lain yang juga susah dilakukan. Ternyata lama-lama setelah seminggu bahkan lebih, rasanya seperti ketika bantalan tulang punggung bawah kambuh seperti beberapa tahun sebelumnya.

Kupikir kondisi ini DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness) yaitu rasa nyeri yang biasanya muncul 12–72 jam setelah aktivitas fisik dan bisa berlangsung hingga beberapa hari. Meski terasa mengganggu, DOMS adalah hal yang normal, terutama bagi orang-orang yang sedang meningkatkan kebugaran tubuh. 

Kontrol ke Dokter Ortopedi

Akhirnya, 2 Januari 2026 aku kontrol ke dr. Sofyanuddin, Sp. OT. FICS di RS. Siaga Raya. Diberi obat minum dan surat rujukan untuk fisioterapi di klinik tersebut. Stop semua jenis olahraga, fokus fisioterapi dan latihan. Ulala, kok pasutri kompak banget sakitnya? Hihihi. Bersyukur aku masih bisa menyetir mobil. Alhamdulillaah tidak separah dua tahun lalu. Jadi urusan fisioterapi suami pun masih aman terkendali.

Fisioterapiku sekitar 2 jam, bagian lutut dan punggung. Punggung bawah tiga alat masing-masing 15 menit, begitu pula lututnya juga tiga alat masing-masing. Plus senam ringan bagian kaki dan pinggul sambil rebahan. Terapis di rumah sakit ini membuat nyaman para pasien, lho.

Apa Itu Lower Back Pain?

Lower back pain (LBP) adalah nyeri yang dirasakan pada punggung bagian bawah atau area lumbosacral. Batas atasnya yakni tepi bawah tulang rusuk terendah dan batas bawahnya adalah lipatan horizontal di bagian atas bokong. Lower back pain biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari cedera hingga tumor. Rasa ketidaknyamanan ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyebab dan Gejala Lower Back Pain

Lower back pain pada umumnya disebabkan oleh cedera otot dan ligament. Nyeri akan muncul bertahap misalnya karena otot yang menegang setelah berolahraga. Jika terjadi cedera punggung bawah, maka nyeri akan muncul secara tiba-tiba.

Beberapa faktor penyebab LBP yaitu:
  • Fraktur tulang belakang atau trauma.
  • Masalah bantalan tulang seperti saraf terjepit atau faktor degeneratif.
  • Masalah struktural.
  • Radang sendi.
  • Tumor primer tulang belakang atau tumor yang menyebar ke tulang belakang.
  • Referred pain, yaitu penjalaran nyeri dari organ lain seperti penyakit batu ginjal.
Ada pula penyebab lain pemicu LBP seperti berat badan berlebih, kram menstruasi, kehamilan, sering mengangkat beban berat, melakukan gerakan tiba-tiba yang menyebabkan punggung bawah tertekan atau tertarik, aktivitas fisik yang berlebihan dalam jangka waktu yang panjang, duduk dalam jangka waktu yang lama. Gejala umum dari lower back pain adalah timbulnya rasa nyeri pada bagian punggung bawah yang bisa datang secara tiba-tiba atau muncul secara bertahap.

Berenang: Olahraga yang Paling Direkomendasikan

Olahraga yang disarankan untukku setelah pulih adalah berenang gaya bebas dan gaya punggung. Gaya kupu-kupu tidak perlu karena memberatkan, sedangkan gaya dada boleh sesekali sebagai selingan. Gaya punggung dan gaya dada memberi paling sedikit tekanan di punggung bagian bawah. Jalan kaki tentu saja baik sekali, bersepeda juga bagus. Strength training menyusul kemudian.

Berenang merupakan olahraga terbaik yang direkomendasikan. Air akan mengurangi tekanan pada persendian dan menggunakan otot-otot inti tubuh tanpa risiko benturan keras, seperti lari. Oleh karena itulah, berolahraga di dalam air dinobatkan sebagai salah satu aktivitas gerak tubuh yang tidak akan membuat punggung sakit, melainkan membantu penyembuhan nyeri di punggung.

Pilates kalau cocok dan nyaman masih boleh dilanjutkan. Yoga kemungkinan besar tidak usah diteruskan. Sepertinya aku kurang cocok berpose hehehe apa mungkin faktor usia ya? Sudah tidak muda lagi hahaha melipat diri apalagi sempat kayang dua kali OMG hahaha.

Pelajaran yang dipetik dari kejadian ini adalah semangat membara mesti disertai kesadaran diri. Ternyata, terlalu memaksakan diri itu tidak sekeren yang dikira. Bukan salah jenis olahraganya ya. Bisa jadi tubuhku kurang mampu beradaptasi, mungkin karena faktor usia yang sudah tidak muda lagi. Ingat umur, low capacity dan intensitas olahraga yang sesuai dengan prinsip FITT (Frequency, Intencity, Time, Type).

Pemulihan dan Aktivitas Rutin yang Dilakukan

Setiap hari Jumat atau Sabtu maupun Minggu pagi, aku dan suamiku punya kebiasaan sederhana yang selalu ditunggu, jalan pagi di Kebun Binatang Ragunan. Langkah kami tak pernah terburu-buru, kadang sejajar, kadang saling menunggu. Di bawah rindangnya pepohonan, kami berjalan sambil berbagi cerita kecil, tentang mimpi semalam, rencana hari ini, atau hal-hal sepele yang justru terasa hangat. Olahraga bagi kami bukan sekadar menjaga tubuh, tapi cara pelan-pelan menjaga kebersamaan.


Ketika Pasutri Kompak Sakit Tulang dan Sendi
Latihan Jalan di Kebun Binatang Ragunan


Selesai berjalan, biasanya aku dan Aa Rahmad lanjut dengan ritual favorit yakni jajan sarapan. Entah itu Pecel sayuran, bubur ayam, soto ayam, gado-gado dari pedagang kaki lima, semuanya terasa lebih nikmat saat dinikmati berdua. Sambil duduk santai, kami tertawa kecil dan menikmati pagi tanpa perlu banyak kata. Di momen-momen seperti ini, cinta terasa sederhana hadir dalam kebersamaan yang apa adanya.

Rutinitas jalan pagi ini menjadi pengingat bahwa hubungan juga perlu dirawat, sama seperti tubuh. Lewat langkah-langkah ringan dan waktu yang diluangkan, pasutri belajar saling menguatkan tanpa janji besar. Cukup berjalan bersama, menikmati pagi, dan pulang dengan hati yang lebih tenang. Dari Ragunan dan sarapan sederhana itulah, kami merangkai kebahagiaan kecil yang terus tumbuh setiap hari.

Sebenarnya aku masih ingin bercerita lebih panjang lagi. Sepertinya sudah cukup ya hehehe. Aku sudah niat ingin menulis kegiatan olahraga pilates, berenang, strength training dan sebagainya. Insya Allah di lain kesempatan kita bersua kembali. Teman-teman, terima kasih sudah mampir ke blog dan membaca tulisan-tulisanku. Sampai jumpa! 😍

Referensi
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-low-back-pain
  • https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-doms-kondisi-nyeri-otot-usai-berolahraga




32 comments:

  1. Waaah pantesan tiap aku ke blog mba Nurul, blm ada yg baru terus.kirain mba lagi fokus ke platform media sosial lain. Ternyata sakit dan suamipun sakit juga ya mba.

    Baca ttg kronologinya, kebayang ngiluuuu banget 😫. Secara pernah ngerasain tulang retak di tangan kanan akibat jatuh. Apalagi kalau di paha, Krn pasti ganggu mobilitas .

    Memang kalau jatuh itu, bagi usia kita harus diwaspadai ya mba. Krn bisa jadi efeknya malah memburuk. Untung suami mba Nurul cepat berobat ke dr orto.

    Semoga kalian berdua cepat kembali 100% pulih yaaa 🤗

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Fanny :) Iyaaaa nih hihihihi lagi hiatus sejenak, padahal kangen banget ngeblog :D Aamiin makasih ya doanya. Semoga kita semua diberikan rezeki kesehatan dan lain2 oleh Allah SWT. Mantap deh kita bisa saling mampir lagi insya allah ya.

      Delete
  2. Ya Allah, kebayang ngilunya pas nahan sakit habis jatuh dan ujungnya bikin harus perawatan panjang. Trus yang waktu Teteh ikutan sakit gara-gara habis yoga. Ya Allah ... Ternyata begini cerita lengkapnya.

    Kemarin kemarin cuma lirik di medsos doang, setelah baca cerita panjangnya, cuma sanggup bilang, "Semoga lekas pulih sehat segar bugarseperti sedia kala lagi, Teteh dan suami".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin makasih doanya, Kak Acha :D Iya tuh aku ternyata kurang cocok yoga padahal baru pertama kali udah melipat diri ahahahah :D

      Delete
  3. Sehat-sehat Mbak Nurul dan keluarga. Membaca kronologis sakitnya suami dan Mbak Nurul, saya jadi ingat dulu pernah juga sakit yang berhubungan dengan tulang. Kalau saya lumayan parah dulu karena kakinya kelindes ban mobil dan patah tulang betisnya sampai tulangnya keliatan keluar. Lumayan lama proses sampai belajar jalan kaki lagi, kisaran 3 bulan kalau tidak salah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin makasih ya doanya mas Yonal. Oh begituuuu? Memang rasanya luar biasa kalau sakit sendi dan tulang deh hehehe.

      Delete
  4. Berarti sehati, suami istri kompak sakit tulang dan sendi....bercanda ya, Mba Nurul.
    Ikut prihatin ya, Mba. Semoga suami tercinta lekas pulih seperti sediakala dan Mba Nurul sehat lagi, bisa beraktifitas kembali. Ditunggu cerita serunya saat olaharga pilates dllnya. Semangat sehat! Semoga Allah menjaga Mba Nurul dan keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks doanya ya, mbak Dian :) Iya nih kompak begini sakit berdua juga wkwkwkwkw. Sehat2 selalu mbak sekeluarga :)

      Delete
  5. Pertama dan yang utama, saya doakan semoga keduanya lekas sembuh dan diberikan kesehatan seperti sediakala. 🤲🤲

    Saling melengkapi ya teh. Ketika salah satu ada yang lagi sakit, maka yang satunya akan membantu sekuat tenaga dan penuh cinta & kasih sayang. Mungkin dengan adanya rasa sakit ini, keduanya jadi lebih harmonis dan punya waktu untuk bersama..

    Saya juga pernah cidera otot paha ketiban motor saat ngeluarin motor dari rumah, eh malah hilang keseimbangan. Jadinya motor jatuh menimpa paha kanan. Otot gak bisa digerakkan. Sulit berjalan. Butuh waktu lama untuk bisa berjalan normal kembali.

    BTW ada sedikit typo. Itu ada tanggal 23 Desember 2026. Pasti maksudnya 2025 ya, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih doanya, Kang Hendra. Aamiin yra. Udah dibenerin yang typo, thanks. Iya deh cedera tuh ga enak banget. Apalagi mengalami retak ya duuuh butuh kesabaran luar biasa.

      Delete
  6. Kadang kesehatan baru terasa penting saat diuji seperti ini. Semoga selalu diberikan kesembuhan dan tetap kompak menghadapi semuanya bersama ya mbak🤍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali. Insya Allah aamiin. Makasih ya :D

      Delete
  7. Membaca perjuangan Aa Rahmad dengan kruknya dan Mbak yang terkena cedera otot sehabis yoga, saya jadi diingatkan bahwa kesehatan itu memang investasi nomor satu.
    Salut dengan cara Mbak Nurul tetap positif dan telaten menemani suami kontrol ke RS Siaga Raya. Bagian jalan santai di Ragunan dan ritual sarapan buburnya itu manis sekali—bukti kalau bahagia itu sederhana, cukup dengan saling menguatkan dalam kondisi apa pun. Semoga sehat terus untuk Mbak dan suami!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Bang Dong :) Iya jalan tipis2 di bunbin Ragunan olahraga sambil latihan, seru banget. Setuju, sabar itu kudu deh hehehehe. Thanks ya doanya.

      Delete
  8. Hyaaah judulnyaaa. Semoga selanjutnya kompakan selalu sehat ya mbak Nurul aamiin :D
    Owh ya ampun ternyata ceritanya terpleset saat ada acara di Bali ya. jadi pas ke Bali belum ke dokter ya mbak? Dikira kesleo biasa gitu. Untung dekat rumah ada dokter ortopedi yang bisa diandalkan ya mbak, udah kek dokter keluarga aja, hehe.

    Sekaramg sibuk nih anter jemputnya jadi anter jemput suami ya mbak. Lumayan juga sih buat ibu2 kek kita buat lihat jalan sebentar :D

    Olahraga berenang emang ok banget sih buat yang sering mengalami low back pain. Kalau nggak bisa kek yoga dan pilates yang nggak memerlukan gerakan cepat yang ngagetin otot dan tulang ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakakkaa iya, April :D Begitulah ceritanya :) Iya, masih antar jemput suami ngantor nih. Makasih ya doanya. Sehat2 selalu kita semua aamiin.

      Delete
  9. Ngilu saya membayangkannya karena pernah merasakan cedera tulang. Alhamdulillah sekarang semakin membaik semuanya ya, Mbak. Senangnya juga ada dokter orto yang positive vibes. Semangat sembuh deh jadinya. InsyaAllah sehat selalu ya, Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah kini kondisi kami semakin membaik. Makasih ya doanya.

      Delete
  10. Ya Allah mbak 😭😭😭 pantes blog mu kok tumben jarang upload. Ternyata, ada fokus yang beneran harus di prioritaskan. Alhamdulillah ikut lega saat suami mbak akhirnya kembali pulih setelah dirawat penuh cinta dan perhatian penuh sama mbak.

    Baru narik nafas lega, yaampun mbak malah kena cedera juga. Sing sabar dan semangat ya. Kadang olahraga emang bikin semangat full tapi suka lupa diri. Gapapa ambil hikmahnya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Lala. Thanks ya doanya. Abis ini bisa ngeblog lagi walau ga serajin tahun2 lalu.

      Delete
  11. Sehat² ya mbak buat suami dan mbak Nurul. Jujur pas aku lihat postinganmu waktu itu yang nemenin mas suami jalan² tuh berasa ngilu aku mbak.

    Syukurlah semua sudah membaik mbak. ❣️

    Saya baca gejala yang dialami suami mbak Nurul kurang lebih kayak saya dulu mbak. Tapi pas di rontgen ternyata normal, jadi diagnosanya syaraf terjepit di area panggul. Dan memang waktu itu sempat bed rest hampir semingguan. Bener² nggak enak bangettt.. 🥲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Dinda, makasih doanya ya. Betul deh rasanya tak terkira hehehe. Sehat2 kita yaaa aamiin.

      Delete
  12. Alhamdulillah sudah lebih baik sekarang ya
    Faktor usia memang tidak bisa dibohongi
    Saya juga sekarang solat tidak sefleksibel sebelumnya. Sekarang ada sakit lutut. Bunyi cekot cekot gitu deh. Sakit juga gak bisa lama nekuk atau lurus
    Tapi kalau semangat gak mau kalah ah, saya juga pengen sembuh juga. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah udah, teh. Harus lebih berhati2 dan mawas diri di manapun kita berada. Sehat2 ya kita aamiin. Makasih.

      Delete
  13. Ya Allah, Mbaak. 🔥🔥🔥 Alhamdulilah sekarang mulai
    membaik semua, ya. Semoga sehat terus dan selamanya deh ke depan ini. Alhamdulillah rezeki banget berjodoh dengan dokter yang cocok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak. Alhamdulillaah. Iya senan banget perkembangannya pesat nih makin pulih.

      Delete
  14. Wah sakit tulang sama cedera otot sama2 ga enak banget ini rasanya soalnya selain ruang gerak terbatas, kalau bergerak juga jadi serba salah . Tapi Alhamdulillah ya mbak sudah membaik semoga sehat sehat selalu dan lebih hati hati ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Bayu, alhamdulillaah. IYa masih pelan2 aja gerakannya nih.

      Delete
  15. Bacanya bikin ngerasa bahwa saling dukung itu penting banget, apalagi kalau sama-sama lagi ngerasain sakit tulang dan sendi. Ceritanya jadi ngena karena menunjukkan bagaimana kebersamaan bisa bantu jalani hari-hari yang nggak nyaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah makasih ya doanya. Betul, saling dukung insya allah :)

      Delete
  16. Kebayang bangettt ini, Rul, bener-bener ujian cinta ya , tsaaaaah. Soalnya kondisi usia kita ((kita)) yang empat puluh plus-plus ini memang rawan banget ya salah urat, kecengklak, otot cidera dan syaraf kejepit. Aku juga ngalamin cidera otot lama deh dan sekarang kalau kumat ya sakit gitu hiks. Alhamdulillah Nurul sama Aa udah membaik ya, sehat selalu buat kalian, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Eniiii. Betul banget hehehhe harus makin mawas diri apalagi kalau beraktivitas makin hati2 ya. Alhamdulillaah, makasih doanya.

      Delete

Terima kasih atas kunjungan teman-teman :) Semoga betah membaca kisah seru dan penuh memori di blogku ini. Silakan tinggalkan pesan, kesan maupun saran. FYI, seluruh komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Oh ya, komentar dengan link hidup tidak akan aku munculkan.