Saturday, October 14, 2017

# event & hang out # Family's health

Cara Efektif Menjaga Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja




Teringat di memori ketika saya masih bekerja di sebuah bank swasta. Kala itu saya menjadi teller. Stresnya terasa sampai ke hati. Mulai dari ritme kerja seperti nada yang tak beraturan karena mesti melayani nasabah secara terus-menerus, jam istirahat yang hampir dipastikan tak tentu setiap harinya, beberapa teman sekantor yang mengintimidasi, dan masih banyak lagi. 


Waktu itu saya pernah bertugas menerima dan menghitung uang setoran dari perusahaan daging, sendirian. Ya, sendirian! Uangnya mulai recehan sampai lembaran seratus ribuan yang di antaranya terdapat daging yang masih menempel pada lembaran uangnya, hahaha fantastis sekali, bukan? Punya nyali dong! Masih beruntung punya atasan yang bisa mengerti dan memahami karyawannya. Kalau tidak? Wah, sudah pada kabur deh hehehe 😄  

Tak dapat dipungkiri kalau setiap orang pasti pernah merasa stres. Sebagai contoh, merasa tertekan oleh atasan (terutama yang bossy), beban kerja yang membosankan, lingkungan sekitar pekerjaan yang tidak sehat, target yang harus dicapai, nah hal-hal ini pasti melelahkan jiwa bukan saja raga. 

'Hari Kesehatan Jiwa Sedunia' (World Mental Health Day) diperingati pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya. Tujuannya adalah untuk  meningkatkan kesadaran seluruh warga dunia akan pentingnya masalah kesehatan jiwa serta memobilisasi segala upaya untuk mendukung kesehatan jiwa. 

1 dari 6,8 orang mengalami masalah kesehatan jiwa di tempat kerja (14,7%). Wanita yang bekerja paruh waktu, hampir 2 kali lebih besar menderita masalah kesehatan jiwa dibandingkan laki-laki yang juga bekerja paruh waktu (19,8% vs 10,9%). Penelitian menunjukkan bahwa 12,7% dari ketidakhadiran di tempat kerja di Inggris dapat dikaitkan dengan kondisi kesehatan jiwa. 

Penyebab Masalah Keswa di Tempat Kerja (Foto: Nurul Sufitri-dokumen kemenkes)

Di Indonesia, dilakukan survey pada salah satu perusahaan kimia dengan melibatkan lebih dari 1900 pekerja juga menunjukkan lebih dari 20% mengalami gangguan mental emosional (Mansyur, Muchtaruddin; Universitas Indonesia).

Kurva Stres (Foto: Nurul Sufitri-dokumen Kemenkes)

Teman-teman, sudah tahu belum kenapa kesehatan kerja perlu diperhatikan? Begini lho 😄 Jika kondisi keluarga sehat namun pekerja sakit, maka akan timbul masalah keluarga. Jika keluarga sakit dan pekerja sehat, timbul beban keluarga. Jangan sampai terjadi hal-hal keluarga dan pekerja sama-sama sakit, nah inilah akan menjadi bencana keluarga. Jadi yang ideal itu keluarga sehat, pekerja pun sehat, maka akan tercipta keluarga bahagia.  

Pada tanggal 4 Oktober 2017 lalu saya berkesempatan hadir dalam acara "Temu Blogger dalam Rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2017". Acara ini bertempat di Ruang Kaca Lantai 2 Gedung Dr. Adhyatma Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tema yang diusung kali ini adalah 'Mental Health in Workplace'. Hari kesehatan jiwa sedunia ini merupakan kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bahu-membahu dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat jiwanya di seluruh dunia.

Narasumber Acara Kemenkes Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (Foto: Nurul Sufitri)

Narasumber yang hadir dalam acara Kemenkes dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2017 ini yaitu:
  • Dr. dr. Fidiansjah, Sp. KJ, MPH selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA.
  • dr. Eka Viola, Sp. KJ selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa.

Kita harus tahu nih apa arti kesehatan secara umum. Definisi kesehatan menurut UU. KES. No. 36 Tahun 2009 adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. 

Latar belakang diangkatnya masalah kesehatan mental ini adalah isu global (Era Good Governance) yang meliputi prasyarat good governance, transformasi pemerintahan, evolusi pengelolaan SDM, manajemen perubahan. Sedangkan isu nasional yang merupakan reformasi birokrasi meliputi anti KKN, restrukturisasi sistem, perbaikan layanan publik dan profesionalisme SDM. Ada pula tuntutan revolusi mental integritas, etos kerja dan gotong-royong.

Hubungan Antara Stres dan Produktivitas (Foto: Nurul Sufitri-dokumen Kemenkes)

Kita mesti paham bahwa masalah keswa dan kesehatan fisik saling terkait satu sama lain dan memengaruhi kesehatan. Depresi, gangguan kejiwaan yang lazim, skizofrenia, gangguan kognitif, alkohol/ zat psikoaktif, depresi maternal dam psikosis maternal ini bisa menyebabkan banyak penyakit. Ada penyakit jantung, stroke, diabetes, HIV/ AIDS, malaria, tuberculosis, gangguan tumbuh kembang pada anak dan kematian bayi.

Workplace Stress (Foto: Nurul Sufitri-dokumen kemenkes)

Ada 10 besar diagnosis pekerja pada tahun 2016 di antaranya penyakit gigi dan mulut, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), hipertensi, myalgia, diabetes melitus, gangguan lambung, low back pain, faringitis, sakit kepala dan demam. Upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa menurut UU KESWA No. 18 Tahun 2014 adalah keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, masyarakat, Fasyankes, media massa, lembaga keagamaan dan tempat ibadah serta Lapas dan Rutan.

Pekerja mempunyai risiko terhadap masalah kesehatan yang disebabkan oleh proses kerja, lingkungan kerja serta perilaku kesehatan kerja. Tempat lingkungan yang sehat menguntungkan pekerja dan pengusaha. Hal ini karena penelitian dan pengetahuan fungsi otak, ganguan jiwa dapat didiagnosis dan ditangani secara efektif. Sebagian besar dari mereka yang memiliki penyakit ini dapat pulih dan menjalani kehidupan yang memuaskan. Pergi ke sekolah, bekerja, membesarkan keluarga, dan menjadi warga negara yang produktif di masyarakat. 

Akibat Stres (Foto: Nurul Sufitri-dokumen Kemenkes)
 
Ada beberapa penyebab penyakit akibat kerja yakni:
  1. Golongan fisika meliputi suhu ekstrem, bising, pencahayaan, vibrasi, radiasi pengion dan non pengion serta tekanan udara.
  2. Golongan kimia meliputi semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, uap logam, larutan, kabut, partikel nano dan lain-lain.
  3. Golongan biologi meliputi bakteri, virus, jamur, bioaerosol dan sebagainya.
  4. Golongan ergonomi meliputi angkat angkut berat, posisi kerja janggal, posisi kerja statis, gerak repetitif, penerangan, Visual Display Terminal (VTD) dan lain-lain.
  5. Golongan psikososial meliputi beban kerja kualitatif dan kuantitatif, organisasi kerja, kerja monoton, hubungan interpersonal, kerja shift, lokasi kerja, kekerasan, narkotika, pelecehan dan sebagainya.  

Untuk itulah diperlukan usaha pencegahan penyakit akibat kerja di antaranya:
  1. Melakukan identifikasi potensi bahaya penyakit akibat kerja.
  2. Promosi kesehatan kerja dengan hasil identifikasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja.
  3. Melakukan pengendalian potensi bahaya di tempat kerja.
  4. Pemberian informasi mengenai alat pelindung diri yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada di tempat kerja dan cara pemakaian alat pelindung diri yang benar.
  5. Pemberian imunisasi bagi pekerja yang rentan terkena zat biologi tertentu dan lainnya.

Hampir mustahil jika seseorang tak penah stres lho. Kehidupannya pasti monoton, tidak punya gairah hidup dan motivasi untuk berkembang. Justru dengan adanya stres inilah bisa memacu semangat untuk mencapai kebutuhan dan keinginan pribadi seseorang. Pada awalnya memang bukan gangguan kesehatan, namun jika kita tak mampu mengelola stres, maka akan menjadi virus yang dampaknya melebihi penyakit yang paling berbahaya bahkan bisa menimbulkan kematian. Menakutkan ya? Hmm...  

Apa tujuan kita mengelola stres? Di antaranya untuk mengenal penyebab stres dan mengetahui teknik-teknik mengelola stres. Kemudian memperbaiki kualitas hidup individu agar menjadi lebih baik. Adapun cara mengelola stres yaitu dengan menghindari situasi yang mengancam, ubah bagaimana kita melihat situasi, buat prioritas, kontrol situasi, kelola bagaimana stres memengaruhi kita, buat tujuan yang realistis, relaksasi serta mencari tahu apa yang lebih penting.

dr. Eka Viola, Sp, KJ (Foto: Nurul Sufitri)

Kini sudah dimulai cara sederhana yang dinilai efeftif untuk mengatasi masalah kesehatan di tempat kerja. Menurut dr. Eka Viola, Sp, KJ ada office syndrome  yang terus bergulir di lingkungan kerja. Nah, solusi yang dapat dilakukan adalah stretching exercise sperti pada gambar di bawah ini. 

Oh ya, beliau juga menyarankan kita untuk 'curhat' alias mencurahkan hati jika ada masalah yang mengganjal atau ada yang ingin disampaikan. Biasanya sih kepada sahabat yang merupakan teman terdekat dan terpercaya. Jangan memendam perasaan tak enak hingga menahun dan berkepanjangan tersimpan di hati, bisa gawat nanti 😙 Siapa tahu ada saran yang bisa memberikan solusi buat kita.

Office Syndrome dan Stretching Execise (Foto: Nurul Sufitri-dokumen Kemenkes)

Teman-teman, ada cara efektif lainnya nih supaya kita bisa hidup sehat dan bahagia. Pernah dengar 'Germas'? Gerakan Masyarakat Hidup Sehat adalah tindakan yang sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. 

Germas ini bertujuan meningkatkan produktivitas penduduk, menurunkan beban biaya pelayanan kesehatan dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Nah, caranya mudah saja kok. Germas ini fokus pada tiga hal lho. Pertama, memeriksakan kesehatan secara rutin. Kedua, melakukan aktivitas fisik. Ketiga, mengonsumsi sayur dan buah.

Kata Kunci Adalah Keseimbangan Hidup (Foto: Nurul Sufitri-dokumen Kemenkes)

Ingin hidup sehat dan bahagia? Ada password-nya lho. Ya, betul sekali! Kata kuncinya yaitu 'Keseimbangan Hidup' antara keluarga, kesehatan, pekerjaan dan teman-teman di sekeliling kita. Gampang kan, caranya? Tinggal kita realisasikan bersama, asal ada niat pasti bisa. Yuk, sebarkan Gemas ini kepada khalayak. Semoga kita selalu sehat dan bahagia lahir batin. Yuk, kita minimalisasikan stres! Semoga ulasan saya kali ini bermanfat ya. Wassalam.


Facebook: Nurul Sufitri
Email: nurulsufitri@gmail.com
Instagram: @nurul_sufitri
Twitter: @Nurulsufitri
Linked In: Nurul Sufitri
WA: 08129634587


40 comments:

  1. Stress pasti pernah dirasakan oleh setiap orang. Mungkin utk pekerja tingkat stressnya lebih tinggi. Masing masing orangpun memiliki cara masing masing utk mengendalikan stress. Salah satunya dg GERMAS itu yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mbak Dewi. Tinggal bagaimnana orang tersebut mampu mengendalikan stresnya menuju hal positif, seperti Germas atau paling mudah bisa curhat kepada orang terpercaya :)

      Delete
  2. Untung aku sudah menemukan cara kalau stress, paking ya nonton film, hehe... Pasti deh senua orang punya sokusinya masing2, cma belum menemukan atau belum sadar aja kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sama dong aku juga suka npnton film kalau lagi banyak pikiran dan mumet gitu. Nonton sendirian aja di rumah :D

      Delete
  3. Nah, di Indonesia ini masyarakat belum familier dengan gangguan kejiwaan. Kalau stress, kebanyakan masih menganggap enteng. "Ah, nanti juga baikan." Padahal stress kalau dibiarkan bisa bertumpuk ya, mbak, bisa mempengaruhi ke badan juga :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya kan ada slogan sehat jiwa raga ya, Nin. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

      Delete
  4. Germas mengedukasi semua orang aku suka banget. Karena semua harus proporsional menurutku ya kerja ya urus keluarga ya buat diri sendiri. Karena tiap orang punya ambang batas kan. Jadi mau sehat mudah asal pada porsinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak Gita. Germas itu sebenarnya mudah diaplikasikan hanya saja masyarakat masih belum aware ya soal ini hehe.

      Delete
  5. Temen aku ada yang ngalamin gangguan karena pada awalnya dibully, padahal dia orangnya pinter dan supel, sedih jadinya sekarang dia harus minum obat terus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasihan kalau orang pintar jadi begini karena ga kuat mentalnya.

      Delete
  6. Bukan hanya stress kerja di kantor, di rumah juga ibu2 kalo kurang piknik bakalan stress, depresi, bahkan gak segan2 sampe bisa membunuh anaknya sendiri, hiyy jadi inget Tatang di sinetron Dunia terbalik hehe.. Byk yg gak ngeh ya sama kesehatan jiwa, pdhl fatal kalo gak ditangani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuuu :) Ibu2 di rumah kayak kita pun justru banyak stresnya loh, jangan salah hahaha. Butuh piknik dari rutinitas sehari2 yang bikin pusing kepala.

      Delete
  7. Sekarang makin banyak orang stres karena tuntutan pekerjaan ya. Tapi ibu rumah tangga juga banyak yg stres lho. Eh itu makan sayur dan buah ternyata bisa mengurangi stres ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makan sayur dan buah sangat membantu kita mengurangi stres, mbak Leyla, yoi :)

      Delete
  8. Iya curhat bisa melegakan hati ya, rul. Cuma kadang suka mikir, kalau yg dicurhatin itu ga punya masalah mah enak. Kalau lagi sama2 runyam.. duuh.. yg ada makin nambah stress ya. Streching di kantor bs dipraktekin juga kalau kerja di rmh yaa.. kayak kita kalau lagu dikejar deadline hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Curhatnya harus dengan yang terpercaya. Tapi paling enak curhat sama Allah hehe. Iya, stretching dilakukan di mana aja selagi bisa, biar relaksasi badan dan pikiran kita makin baik.

      Delete
  9. Kerjaan memang bisa banget bikin stress ya mba.. Ada aja masalah di kantor yang ganggu.. Kalo gak disadari bisa bahaya juga ya.. Kayak di Jepang banyak kasus bunuh diri karena tuntutan kerjaan yang tinggi.. :( Semoga kita jauh-jauh dari stres itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya di Jepang itu kan tingkat stres nya tinggi sekali. Apalagi pekerja di sana kan dituntut harus superrrr kan? Serem ya, banyak kasus bunuh diri gitu.

      Delete
  10. Stress itu ternyata bom waktu banget ya mbk Nurul? Abatnya pun tak main2 bisa sampai gangguan jiwa.
    Mungkin itulah sebabnya skrng bbrp perusahaan suka kasi tempat istirahat yg oke buat karyawannya bahkan ada yg sediain ruang buat tidur siang.
    Emang setiap org butuh keseimbangan, pas ada tanda2 kyk gtu sebaiknya segera cari pertolongan gtu kyk ke psikolog dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perusahaan tempat adikku bekerja pun menyediakan ruangan khusus untuk bersantai sejenak bagi para karyawannya. Bagus ya sekarang perusahaan sudah mulai menyadari arti pentingnya kesehatan jiwa.

      Delete
  11. Wah, ex teller bank mba Nurul, ngitung uang stress ya, soalnya duit orang ya mba. Kesehatan jiwa di kantor iya nih catatan penting banget mba, walau saya bukan pekerja kantoran, tapi suami yang bekerja, berperan supaya suami selalu sehat jiwa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya, mbak Nunu :) menghitung uang sendiri sih enak kayaknya ahahahaha. Kita harus mendukung secara mental buat suami yang bekerja kantoran. Doa juga berperan biar sehat dan sukses selalu aamiin.

      Delete
  12. Saya aja ga kerja udah banyak stress. Tapi udah punya solusinya si, palingan nonton film, bercanda sama anak atau ke tempat makan favorit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sama aku juga suka nonton film kayak HBO gitu di rumah kalau lagi sendirian, asyik banget.

      Delete
  13. Keseimbangan dan gak berlebih. Btw depresi itu no face, dalam menit bisa tiba2 menyerang pikiran akhirnya bisa melakukan hal-hal bodoh. Karena manusia mahluk sosial yang memang butuh orang orang yang peduli satu sama lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, betul, ga bisa kita sendirian meskipun harta berlimpah. Setuju banget, mamih.

      Delete
  14. Banyak faktor ya sres. Sekarang makin banyak manusia stres krn makin mudah membuly orang fi medsos juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bullying sekarang kok jadit hits gitu ya padahal itu hal terburuk, mimpi buruk bagi orang2 yang benar.

      Delete
  15. Saya juga bentar lg stres nih. Kebanyakan mikir soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Relaksasi aja mbak biar stresnya berkurang. Lakukan hobi yang disukai juga oke tuh :)

      Delete
  16. Biasanya pekerja yang dibebani pekerjaan banyak jadi rentan stress ya, mb nurul. Apalagi kalau nggak punya tpat curhat buat numpahin unek-unek seharian. Selama ini aku pun punya sahabat buat curhat2 gitu biar rada legaan. Apalagi klo jelang deadline kerja rasanya kayak dikejar-kejar hutang. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja dong kita kalau dikejar DL bisa ga bobo samia pagi hahaha tapi kalau kelar nulis kayaknya bahagiaaa banget ya mbak Ila. Bener banget, kita butuh curhat kepada sahabat terpercaya biar ga bete disimpan lama di hati :)

      Delete
  17. Kalau stres karena ritme kerja masih bisa diatasi dg liburan atau minimal menjalankan hobi macam masak dan nulis. Tapi kalau udah ada tekanan dari boss (di luar target kerja ya) dan temen2 kerja yg super songkil, saya bakalan berpikir untuk resign ASAP. Bodo amat dibilang rapuh. Saya cuma pingin nyari duit yg bahagia kok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia, anehnya justru tekanan paling hebat datangnya dari teman sakantor apalagi yang selevel tapi bossy. Bisa juga bos yang menekan terlalu dalam kepada karyawan.Setuju, cari duit biar bahagia!

      Delete
  18. Ternyata nggak cuma sehat fisik, tapi sehat mental juga diperlukan di tempat kerja ya. Apalagi kalo kerja di bawah tekanan. Rawan stres itu. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mesti pintar mengelola kesehatan mental kita nih mbak Eka :) Bisa dengan curhat atau hobi yang tersalurkan.

      Delete
  19. Gak cuma masalah kerjaan juga sih mbak, bagi ibu rumah tangga juga kadang suka strees loh kalau suami belum gajian tapi dompet mulai menipis, hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaa pastinya gituuu ya kita nungguin tgl gajian suami. Kalau udh jreng..jreng..jadi sumringah lagi deh 😊

      Delete
  20. Wah ngitung uang yg masih ada daging nya. Perjalanan hidup yang menarik. Suka duka bekerja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya mpo, namanya kerja mesti dijalani ya. Kalau inget ini suka ketawa sendiri wkwkwkwk...sip lah :)

      Delete