Tuesday, March 14, 2017

# books

My Mom My Hero





Dulu, aku pernah membencimu karena alasan yang konyol
Dulu, aku tidak ingin menjadi seorang ibu seperti Mama
Dulu, aku pernah mengata-ngataimu dengan julukan aneh
Dulu, aku seringkali berucap "aahh!" padamu
Dulu, aku sering tidak mematuhi kata-katamu
Kini, juga menjadi istri seorang Aa Rahmad Junaedi
Bahagia dan bangga bisa menjadi seorang ibu dari Rafa dan Fakhri
Merasakan melahirkan secara normal meregang nyawa
Semoga, berbekal tekadku beberapa hari yang lalu
Aku bisa menjadi seorang istri dan mama yang dapat membahagiakan keluarga miniku
Juga mampu membuat Mama senang, bahagia dan bangga memiliki anak seperti aku
Mama, maafkan semua kesalahanku
Semoga Allah SWT mengabulkan do'aku
Aamiin.


Kupandangi foto diri. Tak terasa waktu terus berjalan. Kini aku telah dipanggil “mama” oleh kedua malaikat kecilku. Paras putriku bagai pinang dibelah dua sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Telah kubaca berulangkali puisi yang kubuat menjelang Hari Ibu pada 22 Desember 2011 lalu.
Tiba-tiba aku teringat masa kecilku. Begitu banyak kenangan manis yang kulalui bersama mama, beliau biasa kusapa demikian. Saat mulai masuk dalam kelompok bermain hingga SD kelas dua, mama yang mangantar-jemput aku. Setiap pagi, setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian seragam, aku disisiri mama. Rambutku yang hitam ikal dibiarkan panjang sebahu. Selalu ada aksesoris yang menghiasi rambutku. Aku paling senang dikuncir satu di bagian belakang atau ekor kuda. Terkadang dijepit di sisi kanan dan kiri kepala, atau memakai bando.
Sambil menggendong adikku yang masih bayi, mama menggandeng tanganku. Berjalan menyusuri gang dan jalan pintas yang penuh dengan pepohonan nan rindang, kemudian sampai di sekolah. Bisa dibilang dulu aku termasuk anak yang cengeng. Ke mana dan di mana aku berada pasti harus ditemani mama. Saat beliau hilang dari pandangan mataku, aku pasti menangis. Aku juga sering bolos sekolah karena takut ditinggal mama.
Beranjak dewasa, ketika aku menyelesaikan tugas skripsi dan sibuk mengetik di komputer, tepatnya di ruang keluarga -dulu masih menggunakan personal computer bukan laptop- mama tak pernah beranjak dari sisiku, karena aku yang minta ditemani. Aku penakut. Mama rela berbaring dan memejamkan matanya di atas karpet di depan televisi demi aku. Setia bersamaku dengan iringan doa sampai aku siap sidang.
Seminggu menjelang sidang, aku sakit kepala dan muntah-muntah, stres sepertinya. Badanku dipijiti dan dikerok hingga pulih. Saat kondisiku lemah tak berdaya, beliau tak jijik membersihkan muntahanku. Wajah dan tubuhku diseka dengan waslap yang telah dicelupkan ke dalam waskom air hangat. Menungguiku hingga aku terlelap bersama mimpi indah.
Di kala hamil muda, aku kerap muntah setiap hari. Beliau pula yang menenangkan raga dan batinku yang sangat payah. Seringkali aku teryuhung seperti bertaburan bintang di atas kepala ini. Lagi-lagi, mamalah pahlawanku. Membawakan secangkir teh manis hangat dan membuatkan bubur ayam kesukaanku, juga membelikan semangkuk bubur sumsum yang lezat itu.
Hal yang sama juga terjadi pada saat aku hendak melahirkan kedua anakku. Beliau turut serta membopong, menemaniku di setiap hembusan napas yang tersenggal-senggal saat mengejan berusaha sekuat tenaga demi mengeluarkan bayi yang ada dalam kandunganku. Melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, mendoakan agar proses persalinan berjalan lancar dan normal, memeluk erat tubuhku, membisikkan kata-kata penuh semangat, memijit tangan tangan dan kakiku saat aku merasa tak kuasa menahan sakit yang tak terkira.
“Kamu pasti bisa. Insya Allah, Fit. Mama di sini mendoakanmu. Lawan rasa takut itu. Sebentar lagi cucu mama akan keluar.” ucap mama padaku penuh semangat.
“Kamu hebat! Ayo, tarik napas dalam-dalam. Satu, dua, tiga…Rasa sakit ini tidak seberapa dengan kebanggaan dan kebahagiaanmu menjadi seorang ibu. Ayo, jangan menyerah!”
Membasuh keningku yang berpeluh dengan handuk kecil berair hangat. Menyuapiku bubur ayam atau nasi goreng di kala aku kelelahan usai persalinan, layaknya anak kecil.
Sampai sebesar ini mungkin aku masih seperti bayi bagi mama. Tak diperlihatkan rasa letih di wajah yang sudah keriput itu. Selalu memancarkan keceriaan dan kebahagiaan yang teramat dalam. Begitulah rasanya menjadi seorang ibu. Ikhlas dalam berbuat. Berani, bertanggung jawab, rela berjuang demi kesuksesan sang buah hati tercinta. Kelak, aku pun ingin seperti mama. Semoga.


Cover Buku Karena Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu: Ibuku Pahlawanku

Karena Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu (Antologi): Ibuku Pahlawanku, kisah inspiratif, Penerbit Smart Writing, September 2012


Judul: Karena Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Penulis: Okti Li, Endang Ssn, dkk.
Penerbit Smart-Writing
Tebal: 164 hlm
Ukuran: 14x21 cm
Terbit: September 2012
ISBN: 978-602-18845-2-2
 
Sinopsis:
Dekapan cinta Ibu selalu tersedia setiap waktu untukku. Namun, cara Ibu mendekapkulah yang berbeda dari waktu ke waktu. Ketika aku belajar berjalan, Ibu selalu ada untuk membimbingku, memberiku semangat. Ketika aku belum fasih berjalan dan sesekali terjatuh seketika Ibu langsung menggendong dan mendekapku dengan penuh kehangatan. Dalam dekapan cintanya, Ibu memberikan aku semangat untuk terus belajar berjalan. Hingga tepat usiaku menginjak satu tahun, aku bisa berjalan ke sana kemari dengan tak sesekali jatuh lagi. Terima kasih Ibu.

Dapatkah aku menggambarkan keelokan wajah Ibu? Eloknya lebih indah dari matahari dan bulan. Bulatan hitam bola mata yang begitu pekat menawan, sentuhan jemari tangan yang halus melebihi halusnya sutra, tutur katanya lembut dan penuh kasih sayang. Jika aku membayangkan kesempurnaan seorang bidadari maka bidadari itu Ibu.

Terima kasih atas kunjungan teman-teman 😄 


Facebook: Nurul Sufitri
Instagram: @nurul_sufitri
Twitter: @Nurulsufitri
Email: nurulsufitri@gmail.com
Linked In: Nurul Sufitri
WA: 08129634587
 

10 comments:

  1. Duuh saya jadi baper bacanya Mba, saya jadi semakin kangen sama Mama saya :)

    Semoga Mamanya dan Mba Nurul sekeluarga selalu sehat ya Mba. Aamiin :)

    ReplyDelete
  2. Saya dan mama saya sama2 berzodiak Virgo..ya buat lucu2an aja lah rasi bintang mah. Kita kadang ibarat air dan api. Tapi tetap aja namanya seorang ibu kasih sayangnya ga pernah pudar oleh waktu. Alhamdulillah kedua orangtua saya masih ada. Aamiin, makasih doanya, Mas Awan dan makasih juga sudah sudi mampir dan baca2 cerita di blog saya siiiip :)

    ReplyDelete
  3. Tuh kan pasti baper kalau baca tulisan mb Nurul. Pengen meneteskan air mata ingat ibu saya di Malang hikshiks. Orang yang berjasa tapi makin sering dilewatkan waktu telponnya karena kesibukan yang tiada habisnya. HUaaa semoga mama- mama kita selalu sehat ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ibu kita sehat selalu, dilindungi Allah SWT aamiin...jadi inget mamahku nih lagi proses operasi katarak. Bulan lalu mata kanan, miggu depan yang kiri. Tq mbak Febriyanti.

      Delete
  4. semoga bukunya memberi manfaat banyak untuk yang membacannya aamiin.
    Selamat atas terbitnya juga ya mba, ibu itu sosok yang nggak akan pernah tergantikan dan orang yang paling mengerti siapa kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yra. Iya mamaku nungguin aku ngetik pas skripsi, nemenin aku melahirkan normal kedua anak2ku dll jd terharu hiks... makasih ya sdh mampir ke blog aku mbak Dewanti.

      Delete
  5. mungkin kita anak perempuannya sering tak sepaham dengannya. Tapi hanya sosok ibulah yang selalu mengerti anak-anaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mbak Nurul...eh samaan nama kita yah :D Hanya ibu, ibu dan ibu yang mengerti kita, setelah itu baru ayah ya.

      Delete
  6. Wah jadi sedih bacanya, Mba Nurul. Moga Teteh dan Adek juga ngasih cinta yg sama ya, kayak Mba Nurul ke Mama :)

    ReplyDelete